Tag

,


(Kompas.com 24 Januari 2012)

#1

Kulipat waktu, lalu kumasukkan ke saku.

“Mas, apakah kau benar-benar mencintaiku?”

“Tentu, Divine. Engkaulah wanita yang kuharap selama ini. Tidak ada ragu sedikitpun darimu. Engkaulah Laila yang membuatku– Majnun, tergila-gila kepadamu”

“Terima kasih, Mas..”

Peluk hangat meresap ke sekujur badanku. Kemudian kami berbaring bersama di bawah purnama, di atas Tugu Monas Jakarta.

Divine. Bagaimana tidak kumencintaimu. Engkau perempuan dengan visi yang luar biasa yang pernah kujumpa. Berpuluh-puluh wanita telah kugauli dengan melihat visinya, masa depannya. Aku berhubungan dengan mereka karena mereka membutuhkan kasih sayang. Tentu, aku tidak akan menjalin kasih dengan wanita sembarangan. Masa depan mereka tidak akan berantakan. Setidaknya mereka akan hidup normal sediakala seperti sebelum mengenalku.

Kau tahu, Divine. Karena aku bisa membaca masa depan. Sejelas bulan akan berwujud purnama pada tanggal lima belas Lunarian. Jika melihatmu, kulihat terang. Kulihat jalan panjang menjulang bermandikan cahaya di sisi-sisinya. Bagaikan Tangga Yakub yang berkilau. Aku seperti akan menemui Tuhan.

 

#2

Tidak begitu jelas kapan pertama kalinya aku bisa melihat masa depan. Yang kuingat, saat aku kelas empat, sewaktu ada pemilihan Camat, aku melihat Pak Rohmat yang mempunyai usaha jamu dan obat memegang piala di atas podium. Kukatakan pada Bapak, “Pak Rohmat adalah Pak Camat”. Dan Bapak mengatakan kepada teman sejawat. Teman sejawat Bapak menceritakan kepada kerabatnya. Kerabat dari teman sejawat Bapak menceritakannya kepada temannya yang bekerja sebagai Satpam Kabupaten. Sampai-sampai satu Kabupaten, termasuk Pak Bupati mengetahui kabar itu.

Saat penghitungan suara, semua orang terbelalak. Orang-orang belingsatan seperti punya bisul di pantat. Pak Rohmat menang mengalahkan tiga kandidat lainnya dengan perbandingan yang tidak masuk akal, 56:24:15:5. Padahal Pak Rohmat baru saja berumur tiga puluh empat.

Pak Rohmat berjaya. Aku diarak keliling desa. Diangkat-angkat. Dimintai nasehat, dimintai berkat. Lalu, akhirnya Bapak membuat padepokan di depan rumah. Membikin orang-orang supaya mengantri jika hendak bertemu denganku.

Mereka berarak-arak, berjubel-jubel minta nasehat dan berkat. Saat itu aku tak kuat. Kulihat masa depan beribu orang. Bahagia, nestapa, sukses, hancur, mulia, hina dan kematian. Aku menangis-nangis tiap hari. Sampai akhirnya, Bapak memberikan segelas air ledeng kepada para pengunjung dan berucap air tersebut sudah dijampi-jampi olehku.

***

Aku melihat api berkobaran.Aku melihat orang-orang membawa parang dan aku melihat rumahku hilang tanpa jejak.

“Bakar rumah itu, Bakar!!”

“Hilangkan kemusyrikan dari desa kita!!” Begitu teriak-teriak warga sambil membawa obor yang menyala.

“Mana Karta? Mana anaknya?! Bawa semua keluar!” seorang lelaki bersorban memerintahkan beberapa pemuda berbadan kekar.

“Penyembah iblis! Penyembah iblis!!” Mata orang-orang memerah. Parang di tangan diacung-acungkan. Sumpah serapah terlontar. Mereka telah kerasukan.

“Potong tangannya!” seru pemuda bersenjata parang.

“Potong kakinya!” seru yang lainnya.

“Potong kepalanya!” seru iblis dari kejauhan.

Lalu, semua memekat dalam angkara. Awan hitam menggelayut di atas desa. Cuma desa itu saja. Lain berhias bintang.

Aku merasa gila. Kepalaku seakan mau meledak. Hingga akhirnya, pada malam purnama aku meninggalkan rumah. Pergi ke entah.

Dua hari kemudian kudengar kabar di kampungku terjadi kekacauan. Rumah seorang dukun dibakar dan diporak-porandakan. Penghuninya dibunuhi, dimutilasi, lalu dibuang ke api yang berkobar. Warga murka karena semua yang berobat menemui ajal dengan perut yang membusung dan cairan muntah yang keluar dari mulut.

#3

Hidup menumpang pada keluarga Sukam adalah pilihan. Dari sini kemudian aku menjalani hidup yang normal. Aku bisa bersekolah dan bermain dengan teman-teman, tentu membuat hati bahagia. Namun, bayang-bayang masa depan tetaplah mengusikku. Suatu waktu kulihat Martabat menggenggam pistol. Kemudian berdiri di depannya Ahmad. Tiba-tiba saja peluru bersarang pada dahi Ahmad. Sehari kemudian martabat masuk koran kriminal dengan judul berita: “ANAK POLISI MAIN PISTOL BABENYA. PAMERIN KE TEMEN. MAEN PISTOL-PISTOLAN. DIDOR KEPALA TEMENNYA. MATI DEH..”

Aku menjadi anak yang murung. Di pundakku seakan terpanggul beban yang maha dahsyat. Aku mampu melihat masa depan, namun terlampau banyak yang tidak bisa kurubah.

Soal prestasi, tentu tidak usah ditanya lagi. Aku selalu menjadi juara. Guru-guru takjub dibuatku. Nilaiku selalu sempurna, tidak ada cela. Ini semua karena aku bisa melihat masa depan. Kuintip soal-soal ujian, lalu kusiapkan jawaban malam sebelumnya. Sampai-sampai pihak sekolah memanggil kedua orang tua tiriku.

“Anak Anda luar biasa jenius!” begitu kata Ibu Guru Dorman, Kepala Sekolah.

“Karena dia sekolah ini jadi terkenal. Mulai sekarang, Bapak tidak usah membayar biaya sekolah Maskur. Malahan, kami akan membayar Bapak lima ratus ribu rupiah per bulannya.”

“Asalkan Bapak mengijinkan putra Bapak mengikuti semua perlombaan mewakili sekolah. Bagaimana, Pak?” Bu Guru Dorman mencondongkan kepalanya, menunggu jawaban setengah mengiba.

“Oh, tentu.. Tentu Ibu.” bayangan lima lembar ratusan ribu telah menyala-nyala di matanya.

“Silahkan saja, saya sangat mendukungnya. Ini semua juga untuk kebaikan dia.”

“Tapi maaf, sepertinya kami butuh uang tambahan, karena Maskur juga membantu kami berjualan kue di sekolahan. Kalau bisa nih, Bu, saya minta tambahan untuk itu. Maklum lah, Bu, kami orang tidak berpunya.” papar Sukam dengan senyum lebar penuh harap bejat.

“Oh, baiklah Pak.. tidak masalah.”

Lalu, mulailah aku hidup dalam kamp konsentrasi. Aku disuruh melahap buku tebal-tebal, mengikuti latihan-latihan soal sampai larut malam, benar-benar membosankan. Sudah, akhiri saja semua ini. Aku bisa mendapatkan semua medali yang mereka minta. Perunggu, perak, emas atau berlian sekalipun!

Aku muak. Sudah lima medali telah kupersembahkan kepada sekolah yang gila nama itu. Dipromosikannya seolah-olah prestasi ini adalah hasil pendidikan yang terbaik akademiknya. Dan tak tanggung-tanggung, pada medali emas yang kesepuluh, yang kuperoleh di Korea, biaya sekolah tiba-tiba naik tiga kali lipat. Benar-benar keterlaluan. Akhirnya aku mogok belajar (selama itu aku tinggal di asrama milik Organisasi persiapan olimpiade pelajaran yang dikhususkan menggembleng anak negeri berprestasi).

Aku ingin kembali sejenak ke rumah. Untuk melunaskan visiku selama ini. Visi yang teramat pedih bila kuperbuat terus seperti ini.

“Maskur?! Mengapa kau pulang, nak?” Istri Sukam seolah tidak menginginkan kepulanganku.

“Aku sudah bosan, Bu. Aku ingin hidup normal.” Jawabku sambil berlalu menuju ke kamar.

“Tapi, Nak. Kau harus belajar. Buatlah bangga kedua orang tuamu ini.” Sukam menambahkan, namun pintu kamar keburu kubanting. Lantas aku menangis tersedu di dalamnya.

Malam harinya, setelah makan malam yang bisu, mereka beranjak ke peraduan. Aku pergi ke dapur mengambil dua pisau besar-besar. Lalu setelah kedua laki-bini itu terlelap, kutusukkan pisau tepat di jantung mereka. Kematian yang sesaat, dan tentu melegakanku. Karena di masa depan aku melihat mereka berwujud menjadi dua ular besar yang menjilat-jilat dan melilitku.

Aku memang terlahir sendiri. Sendiri di dunia yang sepi ini.

 

#4

Dahulu aku pernah beranggapan bahwasanya pemerintah tidak becus mengatur negara ini. Pengangguran, kemiskinan, pendidikan rendah selalu jadi masalah. Namun, satu hal yang membuatku terkejut (tentu aku terkejut sebelum mengalami hal ini secara langsung) adalah bahwasannya Dinas Intelijen negara ini sangat hebat. Bukan. Bukan Dinas Intelijen yang seperti negara ini publikasikan ke khalayak ramai, tetapi Dinas Rahasia yang benar-benar Rahasia.

Aku yang seharusnya masuk bui karena telah membunuh kedua orangtua tiriku ternyata dibawa ke suatu pulau asing. Disana aku benar-benar diperlakukan bagai tuan. Semua kebutuhanku terpenuhi. Sungguh.Kebutuhan apapun. Harta yang bergelimang, hiburan yang memabukkan dan tentu saja wanita. Akan tetapi untuk yang satu ini, aku memperhatikan benar tentang masa depannya. Tidak semuanya aku terima. Tentu saja karena kuingat, dahulu aku berasal dari rahim seorang wanita.

Aku bagai raja disini. Namun, suatu waktu aku sering dipanggil. Dibawa ke ruangan sepi yang kosong. Disana, biasanya, dua orang berbaju safari hitam-hitam sudah menunggu. Wajahnya serius dengan kacamata minus.

 

“Apa kabar, Saudara Maskur? Anda kerasan tinggal di Pulau Impian?” tanya lelaki setengah baya yang memakai topi.

“Ya, sangat mengesankan. Saya kerasan tinggal disini. Ada perlu apa saya dibawa kesini?”. Meskipun aku tahu mereka hendak menanyakan apa, aku berpura-pura bertanya.

“Haha.. harusnya tidak usah saya katakan perihal maksud saya pada Anda” petugas yang nampak lebih muda terkekeh.

“Namun baiklah, Tuan Penakar Masa Depan, biar saya ceritakan dahulu.” Ia membetulkan posisi duduknya hingga kemudian tepat menghadapku. Mata kami beradu. Meja ini sebagai batas.

“Anda pasti tahu di dunia ini orang yang seperti Anda hanya ada dua. Satu di Amerika (Serikat maksudnya), dan yang satunya sedang duduk di hadapan saya.”

Aku mengangguk, “Ya, beberapa menit sebelum kau mengatakannya aku sudah mengetahuinya”

“Hahaha.. bukan main!” agen muda itu kembali terbahak.

“Ya, mereka telah meramalkan masa depan.” mungkin karena muda, agen tersebut bercerita penuh semangat.

“Mereka menang dalam perang, ekonomi dan gaya hidup karena telah memperkirakan kejadian yang akan terjadi serta tindakan tepat yang perlu diambil. Mereka mempunyai orang seperti Anda. Orang terpilih, seorang Nabi.” kata-kata terakhirnya membuatku muak.

“Ya, itu pasti.” jawabku datar.

“Lantas, apa mau kalian?” tanyaku pura-pura.

“Tuan Penakar Masa Depan yang budiman, inilah saatnya, inilah waktu anda untuk membangkitkan negara ini. Saat kita untuk berjaya.” Petugas paruh baya yang terlihat kebapakan mencoba meyakinkanku.

Kujawab dengan anggukan enggan. Mengapa? Karena aku melihat langit tiba-tiba berawan hitam, sangat pekat. Mitralyur bersahut-sahutan. Rudal berceceran di angkasa. Langit runtuh dan bumi hancur tak bersisa.

 

#5

Negaraku saat ini besar. Beberapa kali usaha-usaha untuk memecah belah kesatuan bangsa telah berhasil kugagalkan. Kalian tau? Gerakan separatisme dan orang-orang yang mereka bilang teroris-teroris itu tertangkap karena jasaku. Dan pencapaian yang terbesar adalah Negara ini berhasil memperluas daerah kekuasaannya sampai satu Pulau Borneo penuh! Sebuah konfrontasi militer yang sangat elegan. Tanpa adanya pertentangan dari negara manapun di dunia ini.

Ekonomi kita kuat. Semua kegiatan kembali ke jaman purba: barter atau berdagang menggunakan mata uang emas. Jangan kautanya posisi kita di dunia. Hanya Amerika dan Israel saja yang bisa menandingi kita.

Suatu pagi aku diundang Bapak Presiden untuk menghadiri jamuan minum teh bersama. Aku ini orang besar. namun tidak dikenal orang, tentu dengan alasan keamanan. Intelijen secara umum tidak mengetahui kemampuanku. Yang dunia tahu, Bapak Presiden yang telah mengubah Negara dan Dunia.

“Wahai Tuan Penakar Masa Depan yang Terhormat, sudilah kiranya Engkau menemaniku jalan-jalan berkeliling Taman Kota. Aku ingin melihat langsung rakyat-rakyatku. Pun mencari ilmu darimu sepanjang perjalanan.” begitu pinta Bapak Presiden.

Pantas saja, penampilannya kurang kukenal. Kaos oblong, celana training dan sandal jepit serta topi telah dikenakannya.

“Baiklah, Pak. Mari kita jalan-jalan. Akan tetapi, saya mengajukan satu syarat.”

“Apakah itu?” Bapak Presiden mengernyitkan dahi.

“Bapak tidak boleh memprotes, atau melarang semua perbuatan saya selama perjalanan sebelum kita kembali lagi ke tempat ini.” jawabku.

“Baiklah, saya setuju. Justeru dari situlah aku ingin tau apa yang akan engkau perbuat dan dari situ jualah aku memperoleh pelajaran.

“Mari..”

***

Taman Kota lumayan sepi. Di beberapa titik sekelompok keluarga tengah berguarau. Anak-anak bermain lompat tali sedang yang lainnya hanya sekedar duduk di pinggir rerumputan.

Di pinggir danau taman, jauh dari keramaian, seorang anak sedang berjongkok memandang permukaan danau yang tenang. Kami hampiri dirinya. Dari belakang, kutendang pantat anak itu sampai ia terperosok ke danau berlumpur yang dalam.

“Apa yang kau lakukan!!” Bapak Presiden memekik.

Anak tersebut berkecipak, menggapai-nggapai udara. Meminta tolong. Namun posisinya terlampau susah untuk dilihat orang. Akhirnya, hanya buih-buih udara yang menyembul-nyembul perlahan, hingga menyisakan danau yang tenang.

“Kau gila, Maskur!! Anak itu tidak berdosa. Mengapa kau bunuh?!!”Bapak Presiden muntab.

“Bapak masih ingat kesepakatan kita di awal?” kutanyakan dan dia masih terdiam.

“Mari kita lanjutkan..”

Selama perjalanan itu, Bapak Presiden terlihat agak kaku. Akan tetapi, sebagai seorang negarawan ia bisa mengalihkannya dengan pembicaraan-pembicaraan lainnya. Aku menceritakan perihal masa kecilku serta kepedihan hidup sampai diketemukan oleh Negara ini. Dan ia, tentu saja berbicara masalah Negara. Tentang cita-citanya mewujudkan Sumpah Palapa Patih Gajah Mada, serta keinginannya untuk menjadikan Negara ini.. Penguasa Dunia.

Kami melewati sekelompok tukang kebun taman yang sedang bekerja dan menanam beberapa pohon peneduh, kemudian kuhampiri salah satu tukang kebun yang hendak menanam pohon beringin.

“Maaf, pak. Sebaiknya Bapak jangan menanam pohon di sebelah sini.” jelasku kepada tukang kebun itu.

“Memangnya kenapa, Pak?” jawabnya bingung.

“Begini, dilihat dari estetika kurang sedap jika dipandang dari kejauhan, mendingan Bapak tanam di sebelah tanaman alamanda itu, pasti terlihat indah nantinya.” kukarang-karang alasan yang masuk akal.

“Oh, baiklah.. terima kasih atas sarannya.” kemudian tukang kebun itu berlalu.

Bapak Presiden terheran,namun kali ini peristiwanya tidak terlalu fenomenal, jadi ia simpan rasa penasarannya di akhir perjalanan nanti.

Jalan setapak sepanjang taman telah kami lalui. Hingga kami telah sampai pada titik awal kami berangkat.

“Nah, sekarang coba kau ceritakan apa maksud kedua perbuatanmu tadi barusan?” Tanya Bapak Presiden.

“Orang-orangku sudah mengecek keberadaan anak itu, dan tidak dapat ditolong lagi. Apabila kau tidak memberikan alasan yang jelas, kau bisa kupidanakan.” tambah Bapak Presiden.

“Baiklah, coba dengarkan dengan seksama.” Kami duduk di bangku taman.

“Perihal anak yang kutenggelamkan, karena kulihat di masa depan anak tersebut menjadi musuh dunia. Khususnya Negara kita ini. Kesukaannya merenung telah membuat Iblis merasukinya. Jika kubiarkan, dunia bisa kiamat.” jelasku.

“Baiklah, aku bisa menerima hal itu. Dan jika memang benar, lagi-lagi engkau telah menyelamatkan Negara ini,” tanggap Bapak Presiden.

“Lantas, bagaimana dengan tukang kebun di taman itu?” Tanya Bapak Presiden kemudian.

“Oh, tentang itu. Ini adalah rahasia besar. Dibawah tanah, tepat yang hendak ditanami pohon beringin itu tersimpan cadangan Uranium yang sangat melimpah. Aku takut karena akar Beringin nantinya menembus saluran yang sudah terbangun secara alami di bawah tanah itu. Karena memang jaraknya tidak terlalu jauh dari permukaan.” jelasku.

“Apa? Uranium?” tanya Bapak Presiden heran.

“Ya. Sumber energi masa depan dunia. Melimpah. Sangat melimpah.” tandasku.

Bapak Presiden tidak bisa menyembunyikan kegirangannya. Wajahnya sumringah. Dan banyak rencana telah menyala-nyala dalam pikirannya.

“Maaf, Pak. Sebenarnya masih ada satu pelajaran lagi yang hendak saya berikan kepada Bapak.”

“Oh, apakah itu? Lekas katakan. Aku siap mendengarnya.” Bapak Presiden sangat bersemangat.

“Sebenarnya, Pak. Kelak ada pemimpin dari salah satu Negara yang akan merubah dunia. Memimpin armada perang yang sangat hebat dengan strategi yang luar biasa. Wilayahnya terbentang dari mulai Sungai Eufrat sampai Sungai Nil. Bukan, bukan diantara keduanya yang Anda anggap Negara Mesopotamia. Tapi di antaranya yang satunya. Yang luas tak terkira itu.” aku menjelaskan ini dengan hati yang berat.

“Maksudmu, dimulai dari sungai Eufrat, terus ke Timur sampai bertemu sungai Nil itu? Bukan main luasnya! Hampir seluruh dunia!” Bapak Presiden berdecak kagum.

“Ya, kecuali Israilia Raya. Karena nantinya ada yang menghancurkannya yang akupun tidak bisa melihatnya.” tambahku.

“Lalu, siapa pemimpin besar itu? Siapa? Lekas katakan..” tanya Bapak Presiden gusar.

Perlahan aku membuka ikat pinggang. Tanpa sepengetahuan Bapak Presiden aku mengeluarkan sebilah tipis logam tajam dari dalam sarung acrylic yang berfungsi sebagai ikat pinggang.

“Orang tersebut adalah Bapak. Yang dalam beberapa tahun ke depan akan menguasai nuklir dunia. Dan tugas saya adalah mencegah hal itu terjadi, karena akan banyak terjadi pertumpahan darah.” jelasku dengan suara rendah.

Kemudian, dengan gerakan yang cepat kutebaskan logam tajam tersebut ke leher Bapak Presiden. Bapak Presiden yang sebelumnya terkejut karena pernyataanku menjadi sangat terkejut ketika kepalanya hampir putus.

“Mas… kur.. bedebah… kk..kk..aauuu.” suaranya tenggelam oleh darah yang kemudian bercucuran bersimbah-simbah ke conblock taman.

Dari kejauhan, pasukan pengaman presiden langsung berlari ke arahku. Beberapa malah pengunjung taman yang sebelumnya kukira adalah orang biasa. Mereka mengacungkan senjata. Kemudian timah panas tiba-tiba bersarang di kakiku dan perut sebelah kananku. Aku rubuh.

Seorang tentara memukulkan popor senapannya ke tengkuk kepalaku. Tiba-tiba saja dunia ini gelap. Dan aku melayang-layang dalam kegelapan.

 

#6

Aku bisa melihat masa depan, sehingga aku bisa meramalkan jalan hidup mana yang hendak kuambil. Oleh karena itu aku bisa hidup sampai detik ini, meskipun aku telah berhasil membunuh orang nomor satu di negeri ini. Benar kata ilmuwan Einstein sialan itu (tentu aku mengetahuinya dari pembelajaran Olimpiade Fisika). Dunia ini adalah pilihan, dan tiap pilihan telah membentuk dunianya sendiri-sendiri. Mungkin aku telah mati di dunia parallel yang lainnya. Tapi sekarang aku masih hidup.

Pelarianku dari penjara menyusuri lorong-lorong gelap saluran air bawah tanah berhasil. Tentu dengan perkiraan-perkiraan mengenai visiku di masa depan.

Aku terkapar di tengah jalan setelah keluar dari saluran air bawah tanah yang hitam. Di seberang, di bangku pinggir jalan, seorang wanita berambut panjang tengah duduk sendirian. Tengah malam. Dalam sepi yang memasung pekat. Entah siapa, dan darimana, wanita tersebut menghampiriku. Mengusapiku. Kemudian tiba-tiba badanku melayang. Menolak gravitasi bumi ini. Ya, kami benar-benar terbang!

 

#7

Adalah ganjil mengetahui bahwa dunia ini dihuni oleh orang-orang yang mempunyai kemampuan super yang luar biasa. Ezraeli Divine, begitu dia menyebut dirinya. Wanita dengan kemampuan terbang. Terbang tanpa sayap atau alat bantu apapun!

Pertemuan dengannya yang telah membuatku tenang. Persetan dengan Negara ini. Aku juga ingin mempunyai kehidupan yang normal. Memadu kasih dan berkeluarga seperti kebanyakan orang. Namun, ada pertanyaan yang menggangguku akhir-akhir ini dan selalu menggelayut dalam pikiranku.

Suatu waktu, saat kami terbang berkeliling kota Jakarta yang penuh dengan kekacauan, kami singgah di atas gedung wakil rakyat.

“Mas, kita adalah orang-orang spesial. Aku tidak mau terus seperti ini. Aku ingin hidup normal, Mas.” papar Divine.

“Tentu. Tentu aku ingin seperti itu. Mari kita arungi sisa hidup kita di dunia yang fana ini.” jawabku.

“Mas, benarkah dunia ini fana?” tanyanya.

“Ya, setauku.” “Kita pasti akan mati.” jawabku.

“Mas, apakah engkau bisa melihat masa depan setelah mati? Adakah dunia yang indah setelahnya?” tanya Divine kemudian.

Aku terdiam. Lama. Kuingat-ingat, memang aku tidak pernah melihat setelah kematian. Bahkan untuk menemui kematian aku sudah berkali-kali meninggalkannya.

“Belum, Divine. Aku belum mengetahuinya.” jawabku jujur.

“Mas, aku ingin mengetahuinya. Maukah kamu mengetahuinya?” pertanyaan Divine tidak kujawab. Namun terus terpatri dalam sel kelabuku.

 

#8

“Divine, bangun Divine, sayang..” Aku sedikit menggerakkan badannya yang sedari tadi tertidur di pelukanku.

“Ya, ada apa, Mas?” tanya Divine sambil mengucek kedua matanya, indah, sangat indah..

“Aku punya ide. Aku ingin sekali melihat kehidupan setelah kematian.” jawabku mantap. Divine terlihat keheranan.

“Apa, mas?! Serius mas akan melakukannya?”

“Ya, tentu. Disini. Malam ini. Kita bersama-sama.” Aku tersenyum yakin.

“Sebentar, Mas. Ini berarti mas akan mati? Sudah bosankah mas hidup?” Divine masih tidak yakin dengan rencanaku.

“Bukan. Ini bukan masalah bosan hidup atau ingin mati. Ini untuk mengobati ketidaktauanku mengenai suatu hal. Apalah arti hidup apabila aku tidak mengetahui suatu masa depan yang seharusnya aku tahu.” jelasku. “Kau tidak keberatan, kan?” tanyaku kemudian.

“Tentu tidak, Mas. Kita akan bersama, meskipun kematian adalah medianya.” jawab Divine yakin.

Kupeluk Divine erat-erat. Udara malam ibukota menghembus keras. Dari ujung monas ini aku memejamkan mata. Berpelukan bersama Divine kemudian bersama-sama menjatuhkan diri.

***

Ringan, sangat ringan jatuh dari ketinggian. Udara berloncatan di sekitar telingaku. Divine semakin erat memelukku. Seratus meter sebelum jatuh, kira-kira, aku mendapatkan bayangan.

Tiba-tiba menyeruak dua buah sayap hitam dari belakang lengan Divine. Panjang, sepanjang helaan sayap pesawat terbang. Tiba-tiba ia membawa tongkat. Tongkat hitam panjang dengan pisau besar melengkung di ujungnya. Seram. Berubah menyeramkan wajahnya. Tiba-tiba, seringainya begitu menyayat hati. Kemudian seakan ditusuk oleh seribu pedang aku merasakan sakit tiada tanding. Aku sekarat. Dijemput oleh maut.

Sesaat sebelum jatuh kulihat wajah Divine yang masih dalam pelukan. Ia tersenyum. Sangat getir. ***

Cilacap, 11-16 September 2010

Iklan