Tag

, ,


Sebuah terompet ungu masih saja tergeletak di atas almari ruang keluarga. Pertama kali aku melihatnya dua minggu yang lalu, pada hari pertama di tahun baru. Bentuk terompet itu sangat unik. Ujungnya berbentuk corong dengan rumbai-rumbai dari kertas mengkilap yang berwarna keemasan. Sedang pangkalnya dibuat melilit membentuk uliran unik, seperti tanduk domba yang kelewat panjang sehingga melengkung. Karena itulah, bila aku melewati ruang tengah, aku selalu terganggu oleh kehadirannya. Mataku selalu tersangkut pada terompet itu. Pada warna ungu yang seolah olah mempunyai suatu kait, dan karenanya mataku tertambat padanya.

Padahal setahuku, sewaktu malam tahun baru adikku telah dibelikan ibu terompet berwarna merah. Bentuknya pun tidak aneh. Memanjang dan lurus seperti terompet-terompet lainnya. Setahuku juga, pada malam tahun baru kemarin aku menghabiskan waktu dengan menonton televisi di rumah, aku tidak mendengar terompet lain di rumah ini. Adikku hanya satu dan hanya dia anak kecil di rumah ini. Oleh karena itu sangat aneh apabila tiba-tiba saja ada terompet tersebut. Untuk mengobati rasa penasaran, berhari-hari ini aku memberanikan diri untuk mengambil terompet itu. Aku sungguh mati dibuat penasaran olehnya. Sewaktu ibu sedang belanja ke pasar dan adikku sedang bermain bersama teman sepermainannya di halaman depan serta Ayah yang sedang bekerja di kantor penerbitan, aku mulai mendekati lemari ruang keluarga. Langkahku terasa berat, memandang terompet yang terkesan misterius itu membuat pikiranku menerka hal yang tidak-tidak. Dengan tekad yang kubulatkan, aku ambil terompet itu. Ringan saja. Tidak terjadi apa-apa. Tidak ada yang berbahaya dengan terompet ini. Aku perhatikan tiap lekuk tubuhnya. Memang sangat unik sekali. Dari pertengahan badan sampai ujung pangkal tempat mulut diletakkan membentuk uliran unik. Kini kukira seperti rumah siput. Bahan pembuatnya kutaksir adalah kertas karton yang dilapisi kertas mengilap. Dan warna ungunya itu.. sangat menyala. Bahkan kukira ia adalah warna ungu tiga dimensi, karena tiap potongannya seperti membentuk kait-kait, yang seringkali membuat mataku tersangkut seperti yang sudah-sudah. Pembuat terompet pasti orang yang sangat kreatif. Ini adalah maha karya!

Kupikir, sebuah jam dinding tidak akan berfungsi sebagai penunjuk waktu apabila kedua jarumnya tidak bergerak. Demikian dengan sebuah terompet indah, tidak dapat disebut terompet apabila tidak menghasilkan bunyi treett-treett-treett atau bunyi yang sejenis dengan itu. Maka iseng saja aku tiup terompet unik ini. Sebelumnya kutiup pelan-pelan karena takut terdengar adikku yang sedang main di halaman depan. Pasti dia akan merengek meminta terompet ini, sedangan aku masih ingin berlama-lama mempelajari keunikannya. Beberapa tiupan pelan sudah aku lakukan, namun hanya senyap yang dapat kudengar. Aku tidak mendengar bunyi terompet apapun dalam ruang tengah. Atau barangkali aku yang terlalu tegang? Ah, mungkin benar hanya perasanku saja. Aku mencoba kembali untuk meniup terompet ini. Kali ini harus dengan tiupan yang agak kuat, supaya selaput tipis yang ditanam pada pangkal terompet ini bisa bergetar dan bunyi terompet bisa keluar. Satu tiup, dua tiup, tiga tiup. Tidak terdengar apa-apa. Aku mengumpulkan nafas, mengumpulkan udara pada dadaku yang sudah membusung. Dengan satu hentakan mengejan aku tiup terompet itu. Sunyi, hanya kebisuan yang menyelimuti ruang tengah. Tidak ada bunyi berisik yang memekakan telinga. Tidak ada bunyi treett-treett-treeett, tet-tet-tet atau preett-preett-preett. Hanya kebisuan, kesunyian, kesendirian. Mataku sudah berkunang-kunang, aku kehabisan nafas, lidahku kelu dan terasa pahit. Kebisuan telah menyesakki otakku membuat aku tiba-tiba tidak merasakan apa-apa. Hampa.
***

“Syamsul, bangun! Kalau mau tidur jangan di lantai begini, nanti masuk angin kamu”
Suara ibu tiba-tiba membuyarkan kebisuan yang sedari tadi menyergapku. Dua tangannya menenteng tas belanjaan yang penuh dengan sayuran dan keperluan rumah tangga. Aku mengusap kedua mataku yang masih berat, nafasku juga. Lantas mengapa aku sekarang tidur di lantai ruang keluarga? Ah, iya, terompet ungu tadi.
“Ibu, terompetnya mana?”
“Terompet apa?”
“Terompet ungu yang di atas almari itu.”
“Mana kutahu.”

Ibu segera beranjak pergi ke dapur meninggalkanku begitu saja, Dari bawah sini aku melihat warna ungu menyembul dari pojok atas lemari. Terompet itu masih disana dengan warna ungu yang masih menebar kait pada mataku.
***

“Ibu, ini radio siapa yang berada di sangkar si Gelatik?”
“Punya Ayahmu, Sul.”
“Lha terus si Gelatik kemana, Bu?”
“Gelatik ya radio itu. Yang mengoceh tiap pagi, membangunkan kamu dan Saut dengan ocehan-ocehan tidak bermutu itu.” ucap ibu ketus.
“Lantas televisi yang ada dalam kandang Heli ini punya siapa?”
“Ah, kamu pasti linglung gara-gara tidur pagi-pagi. Itu televisi kita, Sul. Ayah mengandangkannya karena kemarin Saut tidak bisa tidur gara-gara melihat harimau di dalamnya.” Ucap ibu dari dapur yang memang berjarak beberapa meter dari ruang tengah.
“Lalu Heli?”
“Heli ya televisi itu!”

Kepalaku berputar-putar. Sungguh. Aku sedang hidup dalam dunia absurditas. Semua barang-barang ini milik Ayahku, dan Ayahku yang meletakkannya pada posisi yang tidak wajar. Bukankah Ayah orang yang terpelajar? Bekerjanya saja di kantor penerbitan. Kantor penerbitan pasti mempunyai tugas untuk menerbitkan buku-buku karya manusia. Tentu hanya orang yang terpelajar yang bisa bekerja di sana.

Ayah memang orang yang eksentrik, kalau aku tidak menganggapnya orang yang berpikiran menyimpang dari kelaziman orang. Sebagai seorang kepala keluarga, beliau tidak begitu buruk. Beliau sanggup memberikan nafkah kepada kami. Menyekolahkanku hingga menginjak bangku kuliah sekarang ini, menyekolahkan Saut yang masih duduk di kelas dua Sekolah Dasar dan memberikan kehidupan –yang meski tidak mewah-mewah betul –yang layak kepada kami. Barangkali hanya satu hal yang mengganjal, beliau hanya pulang satu bulan sekali karena bekerja di Ibukota, pada kantor penerbitan yang terkenal. Terakhir beliau pulang adalah pada malam tahun baru kemarin.

Jika pulang, Ayah akan membawa berbagai macam celana sebagai hadiah bagi kami. Dari mulai celana pendek untuk Saut, celana panjang buatku yang sering kugunakan pergi kuliah dan celana panjang dari bahan katun untuk ibu. Semuanya mempunyai satu kesamaan yaitu berwarna ungu. Aku heran, mengapa hanya celana yang Ayah bawa dari kota? Dan mengapa hanya warna ungu? Sampai-sampai isi lemariku lebih banyak celananya ketimbang baju dan kaos. Jika begini, maka Ayah akan melakukan berbagai eksperimen dengan celana-celana itu. Pada lomba layang-layang tujuh belasan tahun lalu, misalnya, Ayah ikut sebagai peserta dengan membuat layangan dari bahan celana. Celana-celana Saut dan kepunyaanku yang sudah kekecilan dirajutnya, kemudian dengan rangka dari kawat ia mulai menjahit celana-celana tadi menutup kerangka layangan. Celana katun bekas ibu ia gunakan sebagai rumbai-rumbai. Maka, jadilah layangan ungu yang eksentrik.
“Hei lihat, layangan ungu milik siapa itu?”
“Mana?”
“Itu yang berwarna ungu dan berumbai-rumbai. Yang dibuat dari bekas celana itu.”
“Oh, itu milik Pak Pinurbo.”
“Hei, hei.. layangan itu menukik. Celana itu menggelepar.”
Lalu kutemukan layangan Ayah di dahan sawo di belakang rumah. Tempat biasanya celana-celana kami dijemur.
***

Sebentar, teringat warna-warna celana ungu aku jadi teringat terompet unik di ruang tengah itu. Aku mulai berpikiran bahwa terompet yang unik itu, yang menghasilkan suara kesunyian adalah buatan seseorang yang eksentrik. Seseorang yang seperti Ayahku, Pak Pinurbo. Maka sekali lagi kuberanikan diri untuk mengambil terompet yang secara ajaib sudah terletak di atas lemari tadi pagi, sewaktu aku pingsan.
Aku membawanya ke dapur, ke hadapan ibu.
“Ibu, terompet ini didapat dari mana?”
“Saut yang memungutnya di halaman depan, waktu ibu mengajaknya jalan-jalan.”
“Bersama Ayah?”
“Tidak, Ibu berdua saja bersama Saut.”
“Lalu ayah?”
“Beliau di rumah saja. Katanya harus menemani kalender pada saat-saat terakhirnya. Kamu ini bagaimana sih? Masa ada di rumah tapi tidak menyadarinya.”
Aku terdiam. Aku masih ingat betul malam tahun baru kemarin. Setelah Saut pergi tidak ada bunyi terompet pun di rumah. Rumah bisu dan sunyi. Hanya suara televisi yang jelas kudengar. Aku tidak mengira Ayah sedang berada di rumah –menemani kalender pada saat-saat terakhirnya. Tapi untuk apa kalender ditemani? Bukankah ia hanyalah benda mati? Perkara besok kalender itu diganti tidak ada kaitannya dengan kesedihan. Justru orang-orang bergembira menyambut kalender yang baru.
Namun itulah ayah, hanya ia yang mengerti bagaimana jalan pemikirannya. Masih kupegang terompet tahun baru ini. Aku makin penasaran, mengapa terompet ini hanya menghasilkan kebisuan. Aku tidak peduli dengan Saut yang mungkin marah bila terompetnya kurusak. Aku buka kertas ungu yang menyelubunginya. Aku kupas ujung tempat tiupannya. Biang bunyi kuambil, selaputnya masih bagus. Dan saat kutiup ia berbunyi trett-treett-treett. Karena sudah terlanjur rusak, seluruh kertas ungu kulepas. Kini tersingkaplah kertas dasar pembuat badan terompet. Aku terkejut bukan kepalang, terompet ini terbuat dari kertas kalender! Kalender rumah yang setelah malam tahun baru tiba-tiba menghilang.***
Kalibata, 2011

sumber: kompas.com

Iklan