Tag

,


Kiplik terkaget-kaget setelah bangun dari tidurnya. Matanya terperanjat melihat sekeliling. Jantungnya seperti berhenti berdetak. Ia menampar-nampar wajahnya, berharap agar ini semua adalah mimpi. Namun, Kiplik merasakan sakit, yang berarti bahwa ia sedang tidak bermimpi.

Sialan! Sungguh bencana! Pertemuannya dengan seseorang saat istirahat siang di warung makan Bu Bor adalah awal dari segala horor ini. Kemarin ia bertemu dengan Bang Midun, seorang yang memperkenalkan dirinya sebagai Arsitek Mimpi. Seorang yang bisa membangun mimpi di dalam tidur. Apa saja, sesuai dengan keinginan Si Pemimpi.

“Saya lihat hidup Bapak terlalu monoton. Tidak ada semangat yang menyala di mata Bapak..” Bang Midun membuka percakapan kala mereka dengan entah karena suatu apa dipertemukan dalam tempat duduk yang berhadapan.
“Maksud Tuan?”
“Bapak kelihatan loyo. Tidak bergairah menghadapi hidup ini. Bapak seorang pegawai? Bapak terlalu merasa dikekang? Ah, benar sekali! Bapak tidak ingin diperlakukan seperti robot.”

Kiplik ternganga mendengar omongan Bang Midun yang terus saja mengucur menerka-nerka seperti apa dirinya. Namun bukannya menanggapi ucapan Bang Midun, Kiplik hanya melongo, terdiam begitu saja. Mengiyakan apa yang diucapkan Bang Midun secara serampangan tadi.
“Bagaimana Tuan bisa tahu? Tuan paranormal? Ahli nujum?”
“Bukan, bukan keduanya. Zaman moderen sekarang, pekerjaan paranormal sudah tidak prospektif lagi, Pak.

Orang sudah bisa mencari pengobatan dari suatu penyakit hanya bermodalkan jaringan internet. Orang-orang sudah dapat membaca ramalan bintang secara gratis di situs-situs internet. Mereka sudah bisa menjelaskan fenomena-fenomena takhayul melalui Ilmu Pengetahuan. Sungguh mubazir menjadi paranormal di zaman ini. Bukan, saya ini seorang Arsitek Mimpi.”

Kiplik mengernyitkan dahinya. Arsitek Mimpi, pekerjaan apa itu? Setahu dia, Arsitek adalah seseorang yang bekerja mendesain sebuah bangunan; memperhitungkan bagaimana suatu bangunan itu layak didirikan atau tidak. Sedang mimpi? Apa kaitannya dengan Arsitek? Orang yang mampu mendesain mimpi? Bukan main!
“Maksudnya, Tuan bisa mendesain mimpi?”
“Kurang lebihnya seperti itu.”
“Lalu mengapa saya?”

Bang Midun tersenyum. Ia sadar, orang di depannya ini tergolong orang yang berpendidikan. Bagaimana tidak, ia bisa melihat dari seragam cokelat-cokelat yang dikenakannya. Belum lagi emblem yang terpasang di pundak sebelah kanannya. Jelas sekali mengisyaratkan kalau ia adalah seorang Pegawai Pemda, bagian Dinas Sosial tepatnya.

“Seperti saya utarakan di depan, Anda butuh pencerahan. Hidup anda seperti langit biru yang kini tertutup gelap awan kelabu. Tahukah Anda? Selamanya Anda tidak bahagia apabila tidak menyibak tebalnya awan itu. Anda harus mendapatkan pencerahan supaya hidup Anda terang benderang!”

Kiplik tertegun. Siapa pula orang ini bisa mengerti betul kondisi dirinya akhir-akhir ini. Meski terkesan terlalu berlebihan, tetapi pendapat orang ini benar juga. Kiplik sedang mengalami apa yang disebut dengan kemalasan hidup. Hidup ini sudah terlihat sangat membosankan baginya. Memanglah benar, untuk urusan kesejahteraan, Kiplik tidaklah terlalu melarat. Boleh dikata di atas rata-rata ekonomi rakyat negeri ini. Sudah tentu begitu, ia Pegawai Pemerintah Daerah. Masalah gaji sudahlah tetap setiap bulan, belum lagi tambahan apabila ada proyek sampingan yang ia dapatkan secara berkala. Sudahlah cukup untuk mencukupi kebutuhan istrinya, Marinem, yang belakangan gemar mengoleksi cincin akik, dan kedua anaknya, Bobi dan Zamora yang masing-masing sudah duduk di kelas tiga dan lima eSDe.

Belakangan Kiplik sadar, ia hidup bagai robot; berangkat bekerja setiap hari Senin sampai dengan Jumat mulai pukul setengah delapan, lalu pulang ke rumah mulai pukul empat sore. Hal yang dilakukan di kantor pun sama: mengecek permohonan surat tidak mampu, menyortir surat-surat yang masuk dari instansi luar (yang sebagian besar berisi permintaan sumbangan), sesekali bermain game di layar komputernya, atau kalau tidak ada kerjaan ia pergi ke kantin belakang, memesan kopi sambil menghisap rokok dan berbicara remeh-temeh dengan penjaga warung. Begitu saja, tidak ada yang spesial.

Istrinya pun tidak menuntut banyak. Palingan akhir-akhir ini ia meminta uang belanja ekstra sebagai tambahan guna membeli cincin bermata batu akik itu sebagai koleksinya. Kiplik heran, masa iya seorang wanita menyukai cincin akik, pasti norak sekali. Marinem sudah menghiasi keempat jarinya (masing-masing jari tengah dan jari manis) dengan batu akik berwarna-warni. Namun tak apalah, pikir Kiplik. Asalkan ia tidak membelanjakan uang untuk hal yang macam-macam. Tentu malah repot bagi Kiplik bila Marinem menginginkan cincin emas bertahtakan berlian.

Bobi dan Zamora juga dua anak lelaki yang penurut. Keduanya sebenarnya hobi bermain bola, mereka sudah mengutarakan keinginan kepada Kiplik agar dimasukkan ke dalam sekolah sepakbola di kampung ini. Namun Kiplik menolak. Alasannya, profesi pemain bola di negeri ini belumlah prospektif. Bagaimana mau jadi pemain profesional kalau induk organisasi Sepak Bola di negeri ini masih saja tidak profesional. Begitu pikir Kiplik. Akhirnya Bobi dan Zamora ia arahkan untuk menekuni hobi yang kelak dapat berguna bagi mereka: menjahit. Ya, setidaknya menghemat biaya ke tukang jahit bila ada permasalahan dengan sandang mereka.

Kiplik merasa, harus ada yang baru di hidupnya ini. Suatu pengalaman yang membuat hidupnya menjadi bersemangat seperti dulu. Menggebu. Sumringah. Menganggap bahwa tiap detik hidup sangatlah berharga.
“Lantas, Anda bisa membantu mengembalikan semangat hidup saya kembali?”
“Tentu saja, Pak. Saya bisa membuat hidup Anda bergairah kembali!”
“Melalui mimpi?”
“Jangan salah, mimpi yang saya desain ini bukan sembarang mimpi. Mimpi ini akan tertanam betul dalam ingatan Bapak, sehingga ketika Bapak bangun dari tidur, Bapak seperti mengalami pengalaman nyata dalam hidup. Saking nyatanya bahkan Bapak akan menganggap bahwa hidup inilah yang sebenarnya mimpi.”

Mata Kiplik berbinar-binar. Terbersit keraguan juga sebenarnya dalam pikiran sehatnya; apa memang benar apa yang dikatakan orang ini? Namun di zaman yang serba absurd ini segala sesuatu patut dicoba. Ia tertawa geli akan mencoba hal konyol dalam hidupnya. Mendesain mimpi. Bukan main. Petualangan yang seru, dalam sebuah mimpi yang fantastis, bombastis, sehingga membuat hidupnya tidak lagi merasa seperti dikebiri.
“Baiklah. Omong-omong, nama Tuan siapa?”

Mulai dari situlah mereka mengobrol berjam-jam, membicarkan kira-kira mimpi seperti apa yang akan mengembalikan semangat hidup Tuan Kiplik. Mimpi yang akan dibuat oleh Bang Midun haruslah disusun dengan detil. Oleh karenanya, penjelasan dari kliennya sangat penting. Kiplik sampai lupa jika ia harus kembali ke kantornya setelah makan siang.

Di kantornya, Kepala Dinas tengah melakukan inspeksi mendadak guna mengetahui kedisiplinan pegawai. Kiplik tidak ada di tempat. Tidak mengapa sebenarnya, hanya saja catatan merah sudah diterakan dalam buku penilaian kinerjanya.
***
Baru menjelang pukul tiga sore Kiplik tergopoh menuju kantornya. Rupanya ia terlalu asyik membicarakan rencana mimpi dengan Bang Midun tadi. Rancangan mimpinya ini sungguh sangat gila. Ia akan melakukan sesuatu yang hanya bisa diangankannya. Betul sekali, sesuatu yang mustahil bila dilakukan di dunia nyata. Namun sesampainya di kantor, Kiplik mencium gelagat yang kurang mengenakan dari atasannya. Memang bukan yang kedua atau ketiga kalinya ia mangkir dari kantor, tapi melihat atasannya sudah menunggu di depan meja kerjanya, Kiplik merasa saat inilah akumulasi kekesalan dari atasannya memuncak.
“Dari mana Anda Pak Kiplik?”

Atasannya berkacak pinggang, kumis tebal itu seolah menambah angker wajahnya yang kini memerah.
“Saya ada urusan keluarga tadi, Pak.” Jawab Kiplik bohong.
“Anda berbohong. Anda sudah terlalu sering mangkir dari kantor. Saya utus OB untuk mengikuti Anda. Anda sering nongkrong pasar. Anda indisipliner!

Kalau Anda tidak juga berubah, jangan salahkan saya untuk memberi kartu kuning kepada Anda. Ingat, sekarang zamannya Reformasi Birokrasi. Anda sudah tidak boleh lagi seenak perut Anda mangkir dari kantor! Anda harus tahu akibatnya, Anda bisa dipecat! Betul, PNS zaman sekarang jangan macam-macam!”

Kiplik kena semprot Bapak Timoti, atasannya. Sebenarnya inilah alasan yang membuat hidupnya tidak lagi bersemangat. Di kantor Kiplik diperlakukan seperti robot yang harus mematuhi atasan. Memang tuntutan sebagai pegawai amatlah besar, tapi Kiplik sudah jenuh. Ia sudah muak dengan ini semua. Hanya rencana-rencana Arsitek Mimpi yang mampu membuatnya berfantasi dan tersenyum.

Kiplik terduduk di meja kerjanya, matanya menerawang memikirkan rencana-rencana detil desain mimpi yang ia inginkan. Apa benar bila sekarang saya tidur, saya dapat merasakan sensasinya? Gumam Kiplik. Kiplik merasa lelah secara psikis paska kena semprot oleh atasannya itu, kantukpun akhirnya menghinggapinya. Perlahan-lahan sebuah mimpi menyelimuti diri Kiplik yang mulai tertidur di meja kerjanya. Dan segalanya pasti akan berubah ketika ia membuka matanya.
***
Kiplik hendak menjerit, namun menjerit tentu akan mengundang orang-orang dari luar kantor, lebih bahaya lagi jikalau Polisi yang datang. Kiplik berdiri kaku di sudut ruangan. Gila! Entah apa yang telah dilakukannya. Ini semua pasti mimpi, pasti! Ia menampar-nampar pipinya tanpa henti, namun Kiplik tidak kunjung terangun dari mimpinya.

Tangan Kiplik memegang sebuah kapak yang berlumuran darah. Di sekeliliingnya, darah muncrat di mana-mana; di dinding, meja kerja, komputer, whiteboard, foto presiden dan wastafel. Sebuah kepala dengan mata melotot tergeletak di depan meja kerjanya. Tak salah lagi, itu adalah kepala Pak Timoti. Kiplik terdiam tak bersuara. Ini semua pasti mimpi. Pasti…**

Pengadegan, 2012

Iklan