Tag


(Sumber: Oase Kompas.com)

 

Seseorang

:RMD

Seseorang akan datang padamu bersama waktu
Dan matahari tumus di ujung sebuah tunggu

Seseorang akan merapikan rambutmu yang masai
Dan panorama tak lagi pemandangan yang permai

Seseorang selalu di sampingmu, sampai nanti engkau gugur
Selayak karang menunggu ombak hingga tugur

Dan seseorang akan membuat rumah di dadamu
Atau ingatan yang selalu berupa senyum merindu

Tapi seseorang tidak selalu menyibak terang dari kelam
Seperti sebuah sajak yang terlalu balam
Pada masa ini engkau harus lapang
Seperti langit dengan berjuta bintang

Seseorang akan mengingatkanmu tentang lupa
Dan surga tempat engkau kembali bersama

Seseorang di sana akan memintal rindu
Dan engkau di sini menahan sejuta pilu

Seseorang akan terus bermukim dalam ingatan
Dan seseorang itu, barangkali kekasih
yang selalu engkau gumamkan.

2012

Akhir Cerita

:RMD

Kau yang berjalan dalam degup kencang orang-orang hilang
Menghadirkan jawab bagi mata hitam yang menyalang
: Sesudah penantian, pasti ada jawaban
Seperti sumringah selepas lipu
Seperti gairah setelah lesu

Dan bahagia tinggallah waktu yang menunggu
Yang memakan segala hal di dunia—termasuk dirinya.

Kita selalu tertumbuk pada satu persoalan;
Setelah mair, benar adakah suatu kehidupan?

Namun kegelisahan pastilah mendapat jawaban
Sebab kitab adalah firman terjanjikan
Dan tidak ada satupun darinya yang daif
Sebagaimana kita lahir dalam keadaan naif

:
Pada bagian akhir suatu cerita
Kita hanya mengharap bersama
Bahwa surga adalah tempat kita bertemu berikutnya.

2012

 

 

Di Tanjung Priok

:RMD

Di Tanjung Priok, gigil membawa angin darat
menuju laut lepas tak berbatas.

Di anjungan beberapa kapal seperti enggan
melepaskan tautan, memisahkannya
dengan daratan yang mencegahnya bergelinjang.

Tapi inilah hidup, kata laut, dan engkau
harus mencoba deburku, hablur ombakku
Merasakan bebas seperti camar
mencari ikan dengan awas.

Dan cuaca menyisakan aroma basa
Di ujung barat jingga memberi tanda
Bahwa waktu semakin tua.

Engkau mendesah, aku pun.
Kita menatap layang-layang putus
yang hilang kendali oleh anak-anak pantai
Sementara dermaga sesaat kosong
hilang kapal mencari sebuah petualangan

Aku-engkau, berdoa;
“Semoga semua hal di dunia
berjalan sesuai takdir”
lalu kita kembali berjalan,
meninggalkan dermaga,
Kembali membuat takdir kita.

2012

Resital Kesedihan

Di kalender itu, hari telah bergeser perlahan .
Angka berjalan menjadi tua
dan rabun selalu menyelimuti
ingatan tentang usia.

Jam mulai berdetak tidak beraturan
pun degupmu yang berkejaran dengan waktu.
Di luar, malam telah menyisakan
bau hari yang basi.
Dan bulan masih saja bersikap
seolah ia yang paling cakap.

Tapi tenang, sebentar lagi semuanya akan baru
Seperti esok yang akan datang
meninggalkan lelahmu yang sangat.

Engkau bersenandung lagu
masa kecilmu;
“Di sebuah gua, di sebuah ngarai
Penambang menggali batubara
Dwelt namanya, 49 usianya
Dan Clementine nama putrinya

Oh, sayangku, sayangku Clementine
Engkau telah tiada untuk selamanya
Maafkan aku, sayangku..”

Kau memeluk potret hitam-putih
berangka delapan puluh enam
Di mana kesedihan belum tercipta.

Dan kini, semua terasa seperti mimpi;
Waktu yang gegas
Ingatan yang lugas
Dan esok, yang barangkali
Akan hadir dengan kesedihan
Yang lebih beringas.

2012

Iklan