Tag

, ,


(Cerpen ini pernah termuat dalam buku Album Cerita “Hampir Sebuah Metafora”)

 

Sebagaimana pertemuan, perpisahan agaknya akan membuat kau merasakan hal yang sama. Entah, mengapa kimiawi kita lantas bergejolak, sama halnya aliran Sungai Exe yang akan menderas setelah musim semi. Bongkahan es dalam hati kita akan mencair. Menyelimuti tiap-tiap rongga di dada, menyesakki relung-relungnya hingga pori yang terdalam. Sampai-sampai kita akan saling terdiam, lama sekali. Membiarkan angin musim semi menghempas rambut-rambut kita. Membuat telinga kita seakan mendengar sebuah lagu. Lagu yang muncul dalam senyap yang sekarat.

Begitulah, pertemuan dan perpisahan telah menyisakan satu hal yang sama: kerinduan.

***

Jika suatu waktu aku kembali ke kotamu ini, aku akan sangat merindukan waktu-waktu kita bersama. Mengenang perjumpaan kita pertama kalinya. Mengenang saat paling indah yang tentunya akan terus terekam dalam otakku yang kutempatkan dalam ingatan paling dalam, paling hangat yang menyelimutiku jika aku kedinginan.

Setelah selesai mengikuti perkuliahan yang sama sekali tidak aku perhatikan, engkau pasti menyempatkan diri membaca ringkasan kuliah di bangku taman, di bawah pohon ek tua yang tengah meranggas menghadapi umur yang semakin kendur. Saat itu, diam-diam aku akan mendekatimu, menyapamu dan bila perlu aku akan duduk sejenak untuk menanyakan perihal ilmu falak yang baru saja kita bahas. Saat itulah seringnya kupandang wajahmu, kulihat kejernihan matamu serta kunikmati tiap desahan nafas yang keluar dari bibirmu. Namun bukan cinta apabila dapat kuraih tanpa usaha dan pengorbanan. Engkau indah, layaknya keindahan desain arsitektur kampus kita yang angkuh. Menantang, sama halnya tentara Romawi yang telah membuat kota kita sebagai benteng pertahanan di basis barat kekuasaannya. Kaupun begitu, terlalu angkuh untuk aku dekati. Namun rupanya para Imperian atau Equites Caesaris pasukan Romawi juga manusia, mereka membutuhkan suatu rasa. Perasaan yang telah membuat mereka kembali mengingatkan bahwa mereka adalah manusia. Seperti dirimu, sewaktu salju pertama yang turun pada musim dingin kau mulai merasakan kehadiranku.

Dari siswa bodoh yang senantiasa bertanya mengenai ilmu falak kemudian diskusi-diskusi kita mengenai lingkungan hidup, kau mulai menanyakan kabarku. Kabar tentang ternak sapiku di Plymouth atau sekedar bercanda mengenai kekonyolan Sheffield, mahasiswa yang rupanya titisan Mr. Bean, karena tiap gerak dan lakunya sangat menggelikan. Kesemuanya membuat kita saling bertukar pikiran. Dan suatu waktu, ya, suatu waktu yang ingin aku hilangkan dari ingatan, aku telah membuat kesalahan. Aku menanyakan kepadamu mengenai keinginanku untuk merubah status hubungan kita menjadi kekasih. Bukan hanya hubungan yang selama ini kita jalani. Namun engkau tergelak. Lantas meninggalkanku begitu saja dalam kebingungan. Seharusnya tidak usahlah kutanyakan, biarkan kita bersama dahulu. Belajar bersama, berdiskusi bersama, saling menasehati tentang urusan pelik yang sedang kita hadapi.

Langit tiba-tiba mendung. Tetes-tetes salju mencair. berubah dari kapas ringan yang melayang-layang menjadi rintik yang menghunjam bersamaan. O, ada hujan di Exeter.

***

Suatu waktu kita berjalan bersama setelah menyaksikan pertandingan sepakbola Divisi kedua. Aku sangat gembira ketika kesebelasan asal kotaku, Plymouth, berhasil memenangkan pertandingan dengan mengalahkan kesebelasan Devonshire kebanggaanmu. Selanjutnya, sepanjang perjalanan aku akan mengejekmu sedangkan engkau terus-terusan cemberut, menaikkan kain penutup kepalamu dari jaket tebal wol yang kau kenakan, kemudian memalingkan muka dariku. Tapi aku tahu, sesekali kau akan tersimpul malu ketika aku sedikit menggoda tentang manisnya wajahmu bila sedang cemberut. Sebagai pemanis sikap, aku akan membelikanmu gula-gula, lalu kita sempatkan duduk sebentar di bangku taman menikmati manisnya gula-gula, manisnya kehidupan kita bila bersama.

Di taman ini, dalam musim dingin yang semakin menjepit kita dendangkan nyanyian para pencinta.

“Saphierre, engkau menangis?”

“Ah, tidak.”

“Lantas mengapa matamu sembab?”

“Tidak apa-apa, mataku terpercik salju yang terjatuh dari pohon di atas kita.”

Engkau berbohong, aku tahu. Wanita tidak pandai menyembunyikan perasaan. Seringkali engkau berusaha tegar disampingku, namun sebenarnya hatimu sedang hancur berhamburan. Sampai suatu ketika kutangkap serpihan itu dari desah nafasmu yang mencerminkan keputusasaan.

“Frank, dunia terkadang aneh dan absurd, ya?”

“Maksudmu?”

“Banyak kekasih yang telah hidup bersama, namun tidak ada cinta yang menyatukan mereka. Salah satu diantara mereka merasa tersiksa oleh ikatan yang mereka jalani.”

Hening merayap. Anak-anak bermain salju, membentuknya menjadi boneka tambun dengan kepala bulat serta bola mata hitam dari tanah yang membeku. Seulas senyum digambar dengan meletakkan ranting yang berbentuk melengkung. Boneka salju tersenyum kepadaku, kepada Saphierre.

“Dan banyak kekasih yang tidak mungkin hidup bersama, namun cinta diantara mereka telah mengkristal. Menjadi intan yang sangat bergemerlapan.”

“Benar. Benar, Frank..”

Kaupun termenung, memandang kosong ke arah Katedral Exeter di seberang taman. Katedral Anglikan beraroma Gothic yang kokoh berdiri beratus-ratus tahun silam, melewati masa-masa kesedihan, masa-masa perang sipil Inggris, melewati pemakaman-pemakaman yang kelabu yang terbuai dalam kidung requiem.

Disini, kita bersama sayup-sayup mendengarnya. Mendengar kidung cinta yang tiba-tiba saja terasa seperti lagu kematian, kematian cinta kita.

***

            Jika sebelumnya aku tidak menyukai ilmu falak, setelah berjumpa denganmu aku sangat menggemarinya. Tentang cahaya bintang yang berkerlipan di malam kelam, kau pernah memberikan penjelasan bahwa cahaya yang kita lihat bersama adalah masa lalu.

“Bintang berjarak puluhan tahun cahaya, itu berarti kita telah melihat cahaya yang dipancarkan bintang beberapa tahun yang lalu. Jika pada saat ini bintang tersebut telah meledak, kita telah menyaksikan cahaya kehampaan. Cahaya yang telah hilang.” begitu penjelasanmu pada kelas yang lengang.

Sekarang, aku mengerti benar tentang kehampaan. Suatu kondisi dimana aku melihat suatu objek ada, akan tetapi seolah-olah objek tersebut tiada. Seperti dirimu, sepulang menonton pertandingan bola dan selanjutnya kita bercengkerama di taman, seorang lelaki mendekati kita. Kau terhenyak menyadarinya sudah berada di hadapanmu. Matamu yang sembab kembali berair. Lelaki itu menggamit lenganmu. Engkau beranjak mengikutinya, meninggalkanku dalam kebingungan untuk kedua kalinya. Setelah beberapa langkah kau menoleh. Menganggukan kepala sembari tersenyum getir, sebagai tanda perpisahan kita. Bintang yang kulihat telah lenyap di tikungan taman yang tertutup rerimbunan pohon perdu.

Selanjutnya, setiap pertemuan kita adalah kehampaan. Tidak ada lagi gairah bercerita, tiada lagi kidung cinta yang lamat-lamat terdengar lewat angin yang berhembus. Kau telah mati, aku sedang melihat dirimu di masa lalu.

***

“Sebaiknya kita bercerai saja”

“Bagaimana bisa? Aku telah bersabar menunggumu selama bertahun-tahun. Tolong, jangan lakukan itu, Ere..”

“Tapi diantara kita sudah tidak ada kesepakatan. Visi kita sudah berbeda. Kita tidak bisa lagi disatukan.”

“Mengapa hanya karena perbedaan pendapat kau meninggalkanku? Kita masih punya banyak waktu untuk berkompromi.”

Namun kau tidak menghiraukanku. Kau poles bibirmu yang manis dengan gincu merah menyala, menjadikannya ranum dan sangat menggairahkan. Kau gamit tas kerjamu, kemudian sepatu berhak tinggi kau kenakan. Tanpa menyiapkan sarapan, tanpa ada kopi di meja makan, kau hendak meninggalkanku untuk kembali mengajar pada pada Universitas kebanggaanmu. Sedang aku harus tinggal di rumah, membuka bengkel kecil-kecilan yang penghasilannya tak lebih dari seperlima penghasilanmu.

“Ere, tunggu! Aku ingin bicara sebentar!” Kugamit lenganmu sebelum kau meninggalkan beranda.

“Apalagi, Frank!” Kau menyentak. Rona wajahmu memerah, rupanya darah sudah berbalik arah mengalir ke kepalamu.

Sejenak aku terdiam. Saat itu kuingat kembali perkenalan awal kita. Aku mahasiswa sedang kau dosen muda. Kita saling mencinta, tetapi rupanya kekasihmu sudah menunggu untuk menisbatkan ikatan cinta – meskipun tanpa cinta – diantara kalian. Aku sempat kecewa saat itu. Harap dalam cinta telah luruh bersama daun-daun yang meranggas sewaktu musim gugur saat lonceng Katedral berdentang melanggengkan ikatan cinta kalian.

Penantian akan terasa sangat membosankan, namun dalam penat dan keputusasaan engkau hadir di hadapku, dengan terisak dan membawa tas ransel penuh bekal. Kau bilang kau telah bercerai, telah ditinggalkan oleh suamimu. Dicampakkan, dan ditinggalkan bagai sampah. Kau mengiba, mengingatkan kembali kenangan manis kita, suatu saat kita bisa hidup bersama.

Namun waktu itu aku curiga, jangan-jangan bukan suamimu yang mencampakkanmu. Bukan suamimu yang meninggalkanmu sendirian. Aku curiga saat seringkali aku melihat bibirmu tak lagi merah semerah saat kau berangkat kerja. Aku curiga – bahkan yakin seyakin-yakinnya – ada bibir laki-laki lain yang menghapusnya. Aku mengerti. Aku terdiam dan tiba-tiba setan datang merasuk.

Kau sedang berbaring di lantai kayu, rambutmu basah kuyup. Di sekitar kepalamu menggenang cairan merah, kental pula. Kau masih mengenakan baju kerja. Bibirmu masih merah, lebih merah dari cairan itu. Cantik, cantik sekali.

***

Di kotamu ini aku kembali. Berpuluh-puluh tahun aku sendiri. Hidup dalam senyap dan udara lembab yang penuh dengan bau kencing manusia. Di Penjara Plymouth, dalam keramaian para pendosa, aku terpekur. Kau menghantuiku tiap waktu. Dalam sunyi, di balik jeruji yang dingin, sering kudengar kidung cintamu yang pilu, menggumam sepanjang Whimple Street – jalanan senyap di samping penjaraku, yang kemudian melengking menjadi requiem yang menyayat hati.

Pusaramu telah basah. Langit memendung. Tetes-tetes salju mencair. berubah dari kapas ringan yang melayang-layang menjadi rintik yang menghunjam bersamaan. Hujan turun memeluk Exeter.

Hanya hujan yang tahu hati siapa yang sedang dilanda rindu.***

 

Kalibata, Oktober 2010

Iklan