Tag

, ,


(Angkringanwarta, Minggu, 15 Juli 2012)
Tidak ada orang di dunia ini yang kubenci sebenci aku kepada saudariku. Kebencian ini terlalu sering kurasakan dalam hati, bermula dari kecemburuan-kecemburuan kecil yang lambat laun terus tertumpuk menjadi kerak yang melegam dalam dadaku. Sehingga, bila aku mendengar sebuah nama, Nania, gigi-gigiku langsung bergemeletuk dan tangan ini mengepal geram.

Nania adalah anak yang diadopsi oleh kedua orang tuaku. Konon, Ayah dan ibu tidak kunjung dikaruniai seorang anak setelah menikah selama lebih dari dua tahun. Berbagai macam usaha telah dilakukan oleh mereka, dari pengobatan alternatif sampai dengan terapi medis yang membutuhkan biaya cukup banyak. Namun, Tuhan tak kunjung memberi mereka momongan. Sampai suatu ketika, nenek di desa memberi nasehat agar mereka mengadopsi seorang anak.
Tujuannya supaya rahim ibu terpancing untuk mengandung jabang bayi. Dan itu berhasil dengan datangnya Nania ke dunia ini.

Nania adalah gadis dengan mata bulat yang teduh. Mata bening yang kurasa seperti telaga. Bila ia berkedip, bulu mata lentiknya akan naik-turun, bergoyang seperti ilalang yang tengah dibuai angin. Secara garis besar, raut mukanya mengingatkanku kepada Luna Maya, artis cantik ibukota itu. Wajah yang sedikit tirus, lesung pipit yang terjadi saat ia tersenyum, dan dagu yang menyerupai sekelompok lebah yang sedang bergantungan pada sarang mereka sesuai betul dengan definisi wanita yang disebut cantik.

Sedang aku? Oh, bahkan untuk memperhatikan wajahku pada cermin rias aku tak mampu untuk memandangnya lama-lama. Maka dari itu, janganlah sebut nama Nania, terlebih bila aku sedang bercermin.

***

Pada awalnya, tidak ada perbedaan perlakuan di antara kami. Justru dahulu ibu sangat bahagia mempelakukanku. Aku ingat betul saat masih ditimang-timang sayang dalam pelukannya. Sedang Nania, didudukkan pada kain yang telah digantung seperti ayunan. Oh, betapa malang Nania.

Namun hal tersebut tidaklah bertahan lama. Sejalan dengan pohon mangga di samping rumah yang makin tumbuh meninggi, sejalan dengan itu pula kami tumbuh menjadi gadis cilik. Nania sungguh beruntung dikaruniai kulit putih dan paras melati. Garis kecantikan wajahnya sudah nampak jelas sedari kecil.

Sedang aku, meski tidaklah seperti seorang gadis buruk rupa, mempunyai kulit coklat kehitaman—seperti sawo gosong—dan bibir tebal yang agak lebar.

Dari TK, SD hingga SMP kami bersekolah di sekolah yang sama. Tentunya pada kelas yang sama pula. Mula-mula beberapa kawan kami tidak tahu-menahu bila kami adalah kakak-beradik. Namun mereka menaruh curiga melihat kami yang saban hari diantar oleh seorang wanita yang sama.

Beribu pertanyaan pasti mendarat pada telingaku, mengapa saban hari ada Aku, Nania dan Ibu yang turun dari mobil hitam di gerbang SMP Sinar Mentari. Mereka bertanya kepadaku, apakah kami mempunyai orang tua yang sama?

Kujawab, ya. Namun beberapa dari mereka pasti akan terkekeh sembari melihat wajah kami bergantian—melihat wajah Nania lama-lama, kemudian melihat wajahku sebentar. Mereka akan berseloroh, “Wajah kalian tidak mirip sama sekali, mustahil kalian kakak beradik..” atau seperti ini “Nania, mengapa wajah adikmu ini jelek sekali?”

Maka bila demikian, aku tidak dapat lagi menahan gemuruh dalam dadaku. Aku muntab. Dengan lantang dan keras-keras aku akan berteriak,

“Hei, Nania memang bukan saudara kandungku! Dia anak adopsi! Orang tuanya adalah orang tua aseliku. Dia tidak punya orang tua!”

Kerumunan siswa yang mengitari kami pun perlahan bubar. Mereka kembali ke kelas dengan suara dengung seperti lebah, saling menggumam-gumamkan sesuatu. Kulihat Nania berlari kecil menuju kelas sembari mengusap matanya yang berair.

Sejak saat itulah kebencianku kepada Nania makin bertambah.

***

Dominasi Nania terhadapku semakin menjadi selepas kami lulus SMP. Ia masuk tanpa syarat ke SMA favorit di kota kami. Pun tanpa biaya. Beasiswa. Aku sangat iri. Kubilang kepada Ayah, aku ingin pula melanjutkan sekolah di SMA Nania. Namun Ayah bilang, itu tidak mungkin. Nilai-nilaiku terlampau jelek.

Ayah hanya memasukkanku ke sekolah swasta, yang aku sendiri baru mendengar namanya saat itu. Aku terus merengek. Kubilang pada ayah kalau Grasiella, teman bermainku, bisa diterima di SMA favorit itu. Padahal Grasiella tidaklah jauh-jauh prestasinya denganku. Aku bilang ke Ayah, bila Ayah Grasiella telah memberikan bantuan komputer ke sekolah.

Dua kalau tidak salah. Itulah, kata Grasiella, yang membuat Ia diterima di SMA itu. Aku merengek kepada ayah untuk memberikan bantuan komputer kepada SMA Nania. Demi aku, anak kandungnya sendiri.

Namun Ayah geram mendengar hal tersebut. Ia bilang itu perbuatan kotor, sama saja dengan menyuap. Ayah malah memarahiku, membentakku, mengapa aku bisa mempunyai pemikiran seperti itu. Aku hanya diam. Lagi-lagi Ayah membandingkanku dengan Nania.

Dimana Ia bisa mempunyai prestasi yang tinggi di SMP sehingga bisa melanjutkan ke SMA favorit, sedang pekerjaanku hanyalah bermain dan prestasiku sangat buruk. Ia membanggakan pula prestasi Nania di berbagai lomba dan pujian dari orang lain. Sedang aku? Tidak.

Telingaku secara refleks akan kututup ketika mendengar nama Nania. Aku tidak peduli lagi dengannya. Meski sampai dengan lulus SMA kami tinggal satu rumah, aku selalu menghindarinya. Aku tidak peduli dengan acara makan bersama, acara berkumpul bersama di ruang keluarga atau bahkan acara rekreasi keluarga ke tempat-tempat wisata yang menarik. Akulah anak terbuang. Dia, Nania, adalah anak yang hidup bahagia dengan kedua orang tuanya. Oh, betapa menyedihkannya kehidupan ini.

***

Seminggu ini kantong berisi cairan bening itu masih tergantung di samping pembaringanku. Selang-selang yang mengalirkan cairan itu menembus pergelangan tangan kiri. Perlahan. Perlahan aku merasakan alirannya pada nadi yang gemetar.

Aku terbaring disini, setelah tak kuasa menahan sakit di bawah perutku. Air seni yang keluar dari kemaluanku berwarna pekat, kadang coklat kekuningan seperti teh, kadang malah hitam legam seperti kopi. Dan, busa yang muncul bersamanya membuatku merasa muak. Muak di sekitaran pinggang.

Sampai sekarang, rasa nyerinya menyayat hati. Tak tertahankan. Aku merasa pinggangku telah disayat-sayat. Aku menggeriap. Terakhir kuingat, ginjalku telah rusak. Hidupku pasti tidak akan lama lagi apabila tidak ada ginjal pengganti, begitu kata dokter.

Kucoba mengalihkan pandang dari gelembung air yang sedang mengalir melewati selang transparan itu. Kamar berbau alkohol ini langit-langitnya masih putih. Tirai di jendela sana juga masih seperti yang lalu, dengan sedikit bercak noda kecoklatan. Dan di samping kananku masih ada pembaringan putih. Namun kini dengan seseorang yang sedang berbaring di atasnya.

Seorang gadis cantik yang sedang memejamkan matanya. Gadis yang kukenal betul, yang menjadi mimpi buruk selama hidupku ini. Namun, mengapa ia ada disini? Kantung berisi cairan putih itu juga tergantung di sampingnya, mengalirkan air melalui selang kehidupan. Di perutnya yang telah ditutupi selimut sebagian, menyembul perban-perban yang melilit lingkar pinggangnya. Sama sepertiku.
Apakah ia sakit sepertiku?

Aku terkesiap, saat gadis itu membuka matanya, mata bulat yang teduh. Ia masih menggerak-gerakkan kelopak matanya yang seperti nyiur melambai itu—bukan lagi ilalang. Lalu ia memandangku. Lama. Lantas tersenyum. Senyumnya itu, meski selalu ingin kulupakan dalam ingatan selalu memberikan kehangatan pada hatiku.

Senyuman itu, seolah memberi arti: “Nadia, kamu tidak apa-apa, kan? Ayo berdiri adikku sayang..” seperti yang ia lakukan ketika memapahku dari jatuh bertahun-tahun yang lalu.

Perlahan, entah mengapa, air mata hangat menggenang di pelupuk mataku. Terus menelaga, dan akhirnya tak kuasa membendung deras alirannya.

***

Iklan