Tag


Sumber: Oase Kompas.com 8 Juni 2012

Panggung
: Goenawan Mohamad

Kegelapan adalah cara sebuah pertunjukan dimulai.
Setelahnya, tirai kan terangkat dan udara riuh
menyesaki dada pemirsa yang keruh.
Lalu cahaya mulai temaram, semacam fajar
menyibak pagi dengan penuh hingar bingar.

Sejurus kemudian yang tampil adalah segala hal
dari sebuah skenario.

Ia masih berdiri di seberang panggung, segaris lurus,
memandang pertunjukan melalui mukanya yang tirus;
‘Pertunjukan adalah cara manusia menjadi seorang pencipta.’
Ia melihat dengan seksama: lakon-lakon yang melempar dialog
dan bunyi musik tradisional terdengar dari bubungan
di atap teater.

‘Setiap lelakon, biarkanlah berekspresi
terbebas dari segala skenario dan tendensi’
Ia menekan-nekan dagunya
sementara seorang asisten terus saja memberi instruksi;
“tidak semestinya ia menangis tersedu!”
“seharusnya ia mati pada sebuah perang saudara.”
Namun sutradara itu terdiam,
‘biarlah, biarlah segala sesuatu berjalan dengan alami.

Ia pun kembali ke balik panel kendali
membenarkan kembali arlojinya yang rusak
Lagi dan lagi.

Pancoran, 2012

Pada Sebuah Timeline
: Goenawan Mohamad

Pada pagi yang pukul tujuh
orang-orang mulai merencanakan
bagaimana hari ini mereka akan berkeluh.

Dan jalanan adalah tempat untuk menghabiskan usia
Bersama seonggok mimpi yang tersisa semalam.

‘Hidup adalah pengulangan cinta yang tak pernah membosankan.’ tulisnya.
Lalu semua memang berulang, seperti dering gasir
yang selalu ia dengarkan setiap malam
Dahulu, dahulu sekali sebelum keramaian mengusir.

Akan ada cinta yang tersisa dari tiap macet di jalan raya
serta beban kerja dan waktu yang terus saja mengerut
di jantungmu.
‘Kita sudah lupa, berapa banyak pagi sudah menghampiri
Dan esok, apakah ada lagi?’

Maka, dunia maya adalah jalan keluar
dari kenyataan yang semakin membosankan.
Adakah memang yang benar-benar nyata?

Pada akhirnya ia menulis;
“Bawalah aku pergi kepada ketiadaan,
dan kita bersama di sana, tanpa jalan pulang.”

Pancoran, 2012

Sajak yang Sentimentil
:Goenawan Mohamad

Apapun yang tertulis pada waktu,
juga pada sajakmu, adalah frasa yang sentimentil.

Ketika di luar malam hanya menyisakan gigil,
Bulan kisut, dan bintang hanyalah titik-titik mungil.
“Maaf, kesedihan tidak dapat dipesan hari ini,”
Kata pelayan kepada waktu, juga sajakmu.

Lalu engkau mencari kepak kunang-kunang
dari warna kirmizi sampai biru lazuardi,
“Semakin biru, segala sesuatu akan semakin panas,” ucapmu.

Tapi yang tersisa dari tiap sajak
yang dibacakan berlarik-larik sampai tamat
adalah kesedihan, adalah sentimen waktu;
yang terus saja memburu, terus saja membiru.

Pancoran, 2012

Perpisahan
(i)
Orang-orang selalu datang dan pergi dalam kehidupan,
sebagian meninggalkan cerita yang terus menetap pada ingatan.
Mereka bertanya, “Untuk apa orang-orang bertemu?”
Orang-orang, kataku, bertemu untuk membuat kisah
yang dapat menghibur hati ketika gundah dan resah.
Tapi perpisahan selalu datang dengan tiba-tiba
seperti musim yang tidak lagi dapat kita kira
Pada bagian ini, ingatan adalah tempat
paling kokoh menyimpan cerita—juga cinta.
(ii)
Perpisahan adalah cara agar kita menghargai sebuah pertemuan;
Musim yang sibuk oleh kerja, ketegangan terhadap sejawat,
dan waktu yang terus disita oleh penat.
Tapi hidup adalah perkara mengingat
segala hal yang tiba-tiba menjadi kesedihan;
‘Dahulu, aku pernah bertemu dengan orang-orang hebat
dimana waktu berjalan begitu menyenangkan’
Perpisahan adalah cara untuk membuat orang menjadi kuat
Dan kini mereka telah berada pada hidup yang lebih sentausa.
Alangkah sedihnya menjadi anak burung,
yang berpisah dengan induknya ketika dewasa.
Sekarang, kita pun berpisah. Tapi kita tak sedih.*
2012

*) Bait tersebut merupakan adaptasi dari Puisi Goenawan Mohamad berjudul “Di Kebun Jepun”.

Iklan