Tag

,


(Majalah Embun, April 2012)

Aku selalu membayangkan, betapa bahagia menjadi Nadia. Dia mempunyai orang tua yang dapat memenuhi semua kebutuhan hidupnya. Ayahnya bekerja sebagai manajer di Bank ternama, sedang ibunya adalah seorang PNS. Praktis, keluarga Nadia adalah keluarga yang sejahtera. Aku sering berkunjung ke rumahnya untuk mengerjakan PR bersama. Sungguh, rumahnya sangat luas, bertingkat pula. Halamannya dibuat taman dengan air mancur yang terlihat harmonis dengan anyelir dan tetumbuhan hias lainnya. Di ruang belajarnya terdapat satu rak lemari buku yang penuh dengan komik-komik lucu. Boneka-boneka Barbie tergeletak manis di bagian atas tempat tidur yang dibuat seperti etalase. Oh, betapa bahagianya kehidupan Nadia.

Aku sendiri dibesarkan di keluarga sederhana. Ayahku hanya bekerja sebagai kuli tinta, sebutan bagi mereka yang menekuni dunia jurnalistik. Penghasilannya tidak seberapa. Terkadang apabila tidak ada pekerjaan, atau ayahku kehabisan ide, aku harus menunggak pembayaran uang sekolah. Ibuku sendiri tidak bekerja. Ia mengurusi keperluan rumah tangga, merawatku dan adik lelakiku yang masih berumur lima tahun itu. Aku dituntut untuk tidak meminta barang-barang di luar kebutuhan pokok. Untuk tas sekolah, aku diberi tas bekas yang ibu beli di pasar loak. Demikian pula untuk sepatu dan baju seragamku yang ibu modifikasi dari baju putih miliknya dengan penyesuaian di beberapa bagian tubuh. Ibuku mahir menjahit, tak jarang ada beberapa pesanan jahitan baju dari tetangga. Dari situlah seringnya keluarga kami mendapat tambahan penghasilan untuk sekedar membeli susu buat adik kecil.

Demikianlah, perbedaan keluargaku dengan Nadia bagaikan langit dengan bumi. Aku sering berpikir, mengapa Tuhan memberikan bermacam-macam keluarga yang berbeda-beda? Mengapa aku berada di keluarga yang tidak punya? Oh, tidak adilkah Dia?

***

Dari segi prestasi, aku masih berada di atas Nadia. Semenjak SMP kelas 1 kami telah berkenalan. Dia sering mengajakku berkunjung ke rumahnya. Entah sekedar bermain bersama atau mengerjakan PR sepulang sekolah. Darinya aku sering mendengarkan curahan hati tentang keluarganya.

“Kamu enak ya, Des.. Ibumu selalu berada di rumah untuk menemanimu belajar..”

“Eh, bukankah kau juga begitu, Nad?”

“Jarang.. malah akhir-akhir ini tidak pernah. Ibu selalu pulang di atas jam enam. Beliau hanya menanyakan kabarku, lalu minta izin untuk istirahat karena capek. Sedang ayahku lebih malam pulangnya. Rapat kerja lah, rapat koordinasi wilayah lah, dinas luar kota..”

“Tapi di sini banyak hal yang menyenangkan, Nad. Kamu bisa bermain dengan boneka-boneka lucu itu, membaca komik-komik yang menarik atau bermain Playstation. Pasti sangat menyenangkan!”

“Aku bosan, Des. Aku bosan dengan semua ini. Mereka cuma benda-benda mati yang tidak bisa berbicara ketika aku ajak bicara. Ah, Des, andai kita dapat bertukar keluarga..”

Perlahan, Nadia meneteskan beberapa air matanya, aku jadi salah tingkah. Aku berusaha menyelesaikan PR Matematika, lalu berpamitan kepada Nadia.

***

Sudah dua hari ini Nadia tidak masuk sekolah. Nadia sama sekali tidak memberiku kabar. Terakhir kami bertemu dua hari lalu, ia terlihat murung. Sepertinya ia menanggung beban hidup atau kekecewaan yang mendalam.

Sepulang sekolah aku mencoba menanyakan kabar Nadia kepada Ibu Guru. Namun, aku sangat kaget mendengar berita buruk tentang Nadia.

“Nadia sedang dirawat di RSU Daerah, Desi. Sudah dua hari ini. Kabar dari orang tuanya, ia mencoba meminum racun serangga di kamarnya..”

“Tapi ia baik-baik saja, kan, Bu?”

“Entahlah, Ibu belum mendapat kabar lagi dari kedua orang tuanya, rencananya sepulang sekolah nanti Ibu akan menjenguk.”

Oh, Tuhan.. Apa yang terjadi pada Nadia? Mengapa ia melakukan hal bodoh seperti itu.. Bukankah hidupnya bahagia tanpa kekurangan suatu apa?

Aku gagal memahami kejadian yang menimpa Nadia. Hanya saja, aku beranggapan ia merasa kesepian seperti yang sering ia ceritakan kepadaku. Kasih sayang seorang ibu, perhatian orang tua.. Oh, bukankah justru itu yang aku dapatkan selama ini??

Aku segera teringat muka lembut ibu, lalu muka Ayah yang terlihat lelah namun tetap ada senyum untukku. Ingin rasanya aku memeluk erat tubuhnya dan mendengarkan nasihat-nasihat hidup dengan seksama.

“Desi, meski keluarga kita sederhana, yakinlah.. Ibu masih ada untukmu. Dan ayah pasti takkan membiarkanmu sengsara. Janganlah merasa malu dengan keluargamu ini, inilah karunia Allah. Kita tidak dapat memilih keluarga kita, Allah-lah yang memilihkannya untuk kita.

Demikian nasehat ibu pada suatu malam yang diakhiri dengan seulas senyum lembut pada wajahnya. Wajah yang sejuk dan selalu kurindukan.

Kita tidak dapat memilih keluarga kita, Allah-lah yang memilihkannya untuk kita. Perlahan, mataku terasa basah dan bulir-bulir air mata tumpah bersama keharuan yang membuncah.***

Cilacap, Januari 2012

______

Muhammad Nurcholis lahir di Cilacap, 22 Juni 1986. Aktif di Kajian Zionisme Internasional dan hobi mempelajari isu-isu global. Karya-karyanya berupa cerpen dan puisi pernah dimuat di media massa, antara lain: Suara Pembaruan, Harian Global, Harian Aceh, Jurnal Medan, Tabloid Cempaka, Dakwatuna.com, Kompas.com dan inioke.com.

Iklan