Tag

,


Ada hal-hal yang menarik kutemukan dari tiap pulang kampung, yang paling kuperhatikan adalah perkembangan kawan-kawanku semasa kecil. Dahulu sekali, sekitar 30 tahun lalu, kami bermain bersama, mencari keong mas guna dijual sebagai pakan bebek, atau mencuri buah mangga yang ranum-ranum (dan seringnya jatuh lalu busuk) di pekarangan Haji Komar. Haji Komar sendiri kini telah tiada, namun pohon mangganya masih saja tumbuh kokoh dan menghasilkan buah. Barangkali saja ia masih mendapat pahala dari buah mangga yang telah ditanamnya. Ya, bila ia mengikhlaskannya.

Aku pergi merantau ke kota selepas SMA. Pertama untuk menuntut ilmu di ibukota, lalu jalan takdir membawaku menjadi salah satu manajer di suatu perusahaan konstruksi. Terakhir kali aku dan teman-temanku berkumpul, adalah sekitar sepuluh tahun lalu ketika pernikahan Heri Supeno dilaksanakan di desa. Waktu itu kami belum terlalu sibuk, kalaupun ada pekerjaan masih dapat ditinggalkan sebentar dan kebanyakan dari kami belum berkeluarga. Selepas itu, masing-masing dari kawan-kawanku yang berjumlah tujuh orang itu sibuk dengan urusannya sendiri. Memang demikianlah hidup, tidak bisa kita terus-terusan berada pada satu kondisi. Setelah lulus kuliah, aku mengikuti test penerimaan pegawai. Tidak ada halangan yang berarti dari perjalanan karirku. Ini barangkali karunia Tuhan. Aku pun memutuskan untuk tinggal di Jakarta, berkenalan dengan wanita yang satu tempat kerja denganku, lalu melangsungkan pernikahan di Jakarta pula, tempat tinggal istriku.

Aku anak tunggal. Sangat berat meninggalkan kedua orang tuaku di desa ini. Pernah beberapa kali aku mengajak mereka berdua untuk tinggal bersama di kota. Tapi mereka, terutama ibu, menolak. Ibu dilahirkan di kampung, jadi saat meninggal nanti pun ingin di kampung, begitu kata ibu. Aku dihadapkan dilema. Namun pada akhirnya, aku tetap menetap di Jakarta karena disinilah sumber pencaharianku. Tentu aku selalu mengirimi kedua orang tuaku sejumlah uang. Tak pernah alpa.

Sekarang, aku sudah mempunyai seorang anak perempuan berumur delapan. Alasanku pulang saat ini karena anakku pula. Anakku sedang sakit, namun dengan sakit yang aneh. Sampai dengan usia enam tahun ia terlihat baik-baik saja dan tumbuh menjadi gadis yang periang. Kecerdasan pun nampak dari bagaimana ia berinteraksi serta menangkap maksud dari permainan-permainan yang ia kerjakan. Maka tak heran apabila aku menaruh banyak harap terhadap anak perempuanku ini. Hanya saja, ketika ia mulai menginjak umur tujuh tahun, terjadi keanehan pada dirinya. Keanehan dimulai pada suatu sore saat ia mengalami demam yang hebat. Ketika keningnya aku sentuh, aku seperti memegang bara. Sangat panas. Matanya terlihat membelalak dengan biji mata tertarik ke atas menyisakan mata yang hanya berwarna putih. Sangat menyeramkan.

Aku sangat panik kala itu, pertanyaan demi pertanyaan menggerayangi pikiranku. Apa yang telah menyerang anakku ini?

Aku segera membawanya ke rumah sakit terdekat. Setelah dilakukan pemeriksaan, dokter berkesimpulan bahwa anakku hanya demam. Kejang-kejang itu ditimbulkan karena badan yang tidak kuat terhadap panas tubuh yang sangat. Saat itu aku percaya dan membawanya kembali pulang. Dan memang demikian, panasnya berangsur padam dan biji matanya kembali hitam.

Namun ada yang aneh dengan perilakunya selepas demam itu. Ia terlihat murung, tatapannya kosong dan wajahnya mengisyaratkan ketakutan yang teramat. Ironisnya, ketika maghrib menjelang anak perempuanku itu mulai kejang-kejang. Keringat berukuran sebiji jagung bercucuran dari dahi dan lehernya. Matanya kembali mengerjap-kerjap. Lalu tiba-tiba hanya menyisakan warna putih. Aku sangat panik, begitupun dengan istriku.

Karena aku besar dalam lingkungan akademis, membawanya kembali ke dokter adalah hal yang paling masuk akal. Namun diagnosa dokter tidak berbeda dengan yang pertama. Ia hanya menderita demam biasa. Dokter tidak bisa berbuat banyak. Penyakit anakku hanya muncul ketika maghrib menjelang. Akhirnya, istriku memberi sebuah saran.

“Sepertinya kita perlu membawa Anggie ke orang pintar, Mas..”

“Orang pintar? Ya dokter itu maksudmu, kan?”

“Bukan, maksudku seorang kyai atau orang tertentu yang bisa mengusir penyakit-penyakit aneh, Mas..”

“Oh, maksudmu dukun?”

“Ya, terserah Mas lah mau menyebutnya apa. Yang jelas kita harus berusaha, Mas. Kita tidak bisa terus-terusan membiarkan Anggie begini..”

Aku terdiam. Usahaku selama ini memang tidak menghasilkan perubahan apa-apa kepada kondisi Anggie. Badannya semakin kurus, meninggalkan belulang yang hanya diselimuti kulit yang makin mengeriput. Wajahnya semakin tirus dan pucat. Ia lebih mirip seorang nenek-nenek ketimbang gadis cilik yang berumur belum genap delapan tahun.

Tidak ada alasan bagiku untuk tidak mengusahakan yang terbaik bagi anakku ini. Aku mencari informasi “orang pintar” dari teman-teman dan tetangga sekitar. Aku mendapati beberapa saran. Dengan keyakinan setengah-setengah, aku membawa anakku ke beberapa orang pintar itu. Pengobatan mereka sungguh tak lazim. Salah satu orang pintar yang kudatangi hanya menyediakan satu gelas air putih. Ia mempersilahkan anak perempuanku untuk duduk di depannya. Mulut kakek itu (demikian tuanya sehingga seluruh rambut dan jenggotnya berwarna putih) berkomat-kamit merapalkan mantra-mantra. Ia meneguk air itu sekali, lalu menyemburkannya ke kepala anakku. Anakku sontak menangis, aku hampir saja menghajar orang tua itu bila saja istriku tidak menahanku dengan keras.

Setelah selesai membaca mantra, kakek itu mempersilahkan anakku untuk minum air putih di gelas tadi. Namun tiba-tiba saja anakku berontak, matanya memerah dan menggeram keras ke kakek tua itu. Istriku mencoba menenangkan anakku, ia memeluknya erat-erat. Entah mengapa, wajah kakek tua tadi mendadak pucat. Ia tidak dapat menyembunyikan keterkejutan yang sangat. Dengan terbata-bata ia menyatakan tidak sanggup menyembuhkan penyakit anak saya dan mempersilahkan untuk dibawa pulang secepatnya. Hal demikian tidak hanya terjadi pada satu orang pintar, hampir semua yang aku temui menyatakan hal yang sama. Tidak ada yang dapat kuperbuat selain kini—setelah lama sekali tidak melakukannya—aku memasrahkan keadaan anakku kepada Tuhan.

***

Kondisi anakku yang sangat payah ini kukabarkan pula kepada Ayah dan Ibuku di kampung halaman. Pada suatu percakapan telepon seluler, ibu menyarankan untuk membawa anakku ke kampung. Di kampung, jelas ibu, ada seorang sakti yang sering mengobati apapun penyakit warga. Bahkan, termasuk kematian. Ibu menceritakan pernah suatu kali ada seorang warga kampung yang meninggal di rumahnya karena dirampok. Polisi tidak dapat menempukan siapa perampok yang telah mengambil harta dan nyawa warga yang malang itu. Warga kampung berinisiatif membawa urusan ini ke Berundah—demikian namanya—seorang sakti yang mempunyai ilmu kanuragan luar biasa. Konon, ia adalah manusia kekal yang tidak dapat mati terkena benda tajam. Oleh Berundah itulah, entah bagaimana caranya, warga yang tidak bernyawa tadi dapat dihidupkan kembali. Lalu ditanyai seperti halnya orang waras tentang kejadian yang menimpanya saat perampokan. Dengan lancar, seorang warga yang berlumuran darah itu menceritakan kesaksian. Dari situlah dapat ditemukan siapa pelaku kejahatan itu. Namun, setelah menyampaikan pesan, korban tadi menutup mata untuk selama-lamanya. Demikianlah yang terjadi, Berundah menjadi jalan akhir bagi setiap masalah yang tidak dapat mereka pecahkan.

“Cobalah kau bawa anakmu itu ke Berundah. Ia orang sakti mandraguna. Pasti anakmu akan sembuh dibuatnya. Cepatlah. Oh, ya, kukira Berundah itu juga teman sepermainanmu dulu. Kalau aku tidak lupa, yang sering memakai topeng kertas putih itu..”

Demikian perkataan ibu di percakapan telepon. Teman sepermainanku? Seingatku dulu tidak ada yang bernama Berundah. Memakai topeng kertas putih? Ah, entahlah, mungkin aku sudah terlalu tua untuk mengingat hal itu. Tapi—mengapa ibu tahu?

***

Mendengar cerita ibu, aku berinisiatif membawa anakku untuk berobat kepada orang sakti Berundah. Perjalanan menuju ke tempat tinggalnya cukup sulit, melewati lembah yang cukup terjal dan areal gambut yang becek dan basah. Aku pergi ke rumah Berundah hanya bersama anakku, sedang istriku kutinggalkan di rumah Ibu. Entah mengapa, anak perempuanku ini sangat riang sepanjang perjalanan.

Berundah tinggal di dekat hutan, dengan rumah petak yang terlihat suram dan kusam. Saat aku datang, pintu rumahnya terlihat terbuka, ketika tanganku hampir saja mengetuk daun pintu, terdengar suara parau dari dalam.

“Ya, Taslim, silahkan masuk.”

Aku hampir limbung ke depan. Mengapa ia langsung bisa mengetahui kedatanganku? Adakah CCTV yang ia pasang di pintu ini? Ah, kurasa tak ada. Barangkali memang benar, ini seperti di film-film misteri bila setiap dukun bisa menebak siapa yang datang dan urusan yang membawanya.

“Pa.. Pak Berundah?” Aku ingin memastikan nama orang di depanku ini. Ia memakai baju serba hitam dengan rambut berjuntaian yang ditutup oleh blangkon hitam. Ia tersenyum, sederet giginya yang hitam nampak pula.

“Hehe, akhirnya kau kembali juga, Nak..”

Rupanya Berundah tidak menghiraukanku, perhatiannya tertuju pada anak perempuanku yang, oh, tiba-tiba saja ia berjalan mendekatinya!

“Mari, Nak, kembalilah padaku. Tinggalkan tubuh renta itu. Di sini kau akan lebih terjaga.”

Kini anak perempuanku sudah berada di depan Berundah. Ia mengusap kening anakku, lalu dengan sapuan halus, ia seperti menangkap sesuatu, menggenggamnya dan memasukkannya ke dalam sebuah stoples. Anakku mendadak lemas, aku segera menghampirinya.

“Tidak apa-apa, ia hanya butuh istirahat.”

“Apakah anak saya sudah sembuh, Berundah?”

“Ya, seperti yang kau lihat.”

Wajah anakku merona kembali, sepertinya darah sudah kembali mengairi sel-sel yang tadinya mati.

“Oh.. Terima kasih.. Terima kasih atas bantuanmu Gurunda Berundah.. ini ada sedikit—“

“Sudahlah, aku tidak memerlukan itu! Aku hanya berpesan, janganlah kau lupakan masa lalu, Taslim.”

Berundah menolak uang pemberianku. Semakin aku memaksanya, ia semakin berang. Pesannya hanya satu: jangan kau lupakan masa lalu. Ah, entahlah, yang penting sekarang anakku sudah normal seperti sedia kala. Ini hal yang paling menggembirakan. Tentang Berundah yang kata Ibu adalah teman sepermainanku dulu, sama sekali aku tak mengingat ada wajah yang sama dengannya.

***

Di perjalanan kereta pulang ke Jakarta, tak henti-hentinya anakku bercerita tentang kegiatannya yang selama ini bermain bersama hewan-hewan lucu seperti yang ada pada buku komiknya. Istriku tidak bisa berbuat apa-apa selain tersenyum dan mendengarkannya dengan sabar. Sampai akhirnya anakku lelah bercerita, ia tertidur di pelukan istriku.

Aku sungguh tidak memahami kejadian ini. Tentang sakit anakku, tentang cerita-ceritanya itu, tentang.. Berundah. Teman sepermainanku, tiga puluh tahun yang lalu, topeng kertas berwarna putih.. Ah!! Ya, aku ingat satu hal. Dahulu saat kami bermain bersama ada seorang anak yang selalu membuntuti kami. Anak itu selalu memakai topeng kertas berwarna putih. Ya, tidak salah lagi, pasti dia itu Berundah yang ibu maksudkan. Namun, seingatku, anak itu hanyut di sungai saat hendak bergabung berenang bersama kami. Ia memang tidak pandai berenang dan jasadnya konon tidak ditemukan. Ah, benarkah dia Berundah?

Aku tidak habis pikir, otakku terlalu capek untuk memikirkan ini semua. Aku bersandar hendak memejamkan mata, ketika aku ingat pesan terakhir dari Berundah: “Jangan kau lupakan masa lalu. Jangan kau lupakan masa lalu…” yang selalu terngiang-ngiang di telingaku. Sampai aku pun sadar, mengapa bapak dan ibuku sama sekali tidak bertambah tua dan terlihat sama setiap tahunnya? Saat itu, aku langsung terhenyak dari tempat dudukku. (*)

Cilacap, Januari 2012

Iklan