Tag

,


Pada pemberhentian ke-25

ia berkata pada angin yang luka
tentang jalan tanpa ujung
tentang cuaca tanpa ramalan
dan oase yang semakin jarang
menyembuhkan tenggorokan yang radang.

Tapi di bibir langit pelangi selalu tersenyum
mencoba menghibur cuaca yang basa
serta badai yang semakin nyinyir di angkasa;
‘Kapan ini akan berakhir?’
tanyanya.

Tak seorang pun tahu kapan tujuan terkejar.
Mungkin nanti, setelah langit lepas,
dan gunung tercerabut dari bumi
dan matahari hilang pada saat fajar.

Ia memejam—barangkali berdoa;
‘semoga di depan dapat kutemui Tuhan’
lalu tapak dimulai dengan niatan suci
melebihi embun pada ujung-ujung duri.

Akan ada musim yang luruh
pada setiap gegas di dalam tekad
tempat membentuk harapan
serta mimpi yang jauh.

Lalu di depan, ia temui pemberhentian ke-26.

Pancoran, 2012

Ingatkan Aku Untuk Terus Melupakanmu

Kaubilang cinta tidak selamanya tetap
kadang naik, kadang turun
seperti iman.

Aku kira itu cuma kiasan
yang berlebihan,
sebab iman
berkaitan dengan Tuhan
dan cinta sebatas manis
di dada.

Kau menggugat
Bahwa cinta bisa saja
pahit seperti kopi hitam
yang disajikan kepada
petugas ronda malam.
(Dan cinta, tentu saja
Ciptaan Tuhan)

Kita tidak menemui sepakat
Udara seperti angkuh
membiarkan napas sesak,
Malam telah memerangkap
manusia pada ketidaksadaran,
Dan jejeran huruf
terlihat sangat membosankan.

Aku putuskan tinggal.
Engkau putuskan bertahan.
Yang berarti
kita telah sampai
pada kesepakatan
untuk tidak bersepakat.

Dan melalui bintang di angkasa
Aku sampaikan pesan;
“Ingatkan aku
Untuk terus
Melupakanmu.”

Pancoran, 2012

Angin

Awan selalu memberimu ruang untuk bertanya apa saja;
mengapa angin begitu  buta? misalnya.
Lalu cakrawala bercerita tentang daun yang jatuh
dan bagaimana kesedihan muncul dari rupanya yang keruh.
‘Siapa yang menghendaki ia gugur?’

Akan selalu ada titik awal
seperti suara intro yang dibawakan
gitaris handal; ini awal lagu yang hebat!
Namun panggung tidak selamanya gemerlap
dan akhir adalah jalan untuk sebuah applause.

Engkau menggenggam sepotong ilalang
bunganya terbang oleh angin yang buta
dan membawanya ke tempat bertekanan rendah.
‘Ah, ternyata angin tidak buta
—hanya saja kita yang tak kuasa menangkapnya.’

Engkau mengangguk lalu menghadap lagi ke awan
engkau hendak bertanya, namun diurungkan.
‘Ya, mungkin cinta pun begitu.’

Pengadegan, 2012

Sebaiknya Kita Bergegas, Sebentar Lagi Hujan Turun Dengan Deras

Mereka telah meninggalkan kota
tanpa menyisakan kenangan sedikitpun.
Dan taman tinggallah peluk yang lapuk
serta aroma hingar yang hambar

Engkau membuat selimut dari kesedihan
memandang gedung-gedung yang semakin tumbuh

Adakah memang segalanya berubah?

Tidak ada lagi waktu bercerita tentang pertandingan bola
waktu kini seolah roti yang habis dibagi
lalu pertemuan sekedar acara reuni

Tetiba langit merunduk
saat detak jarum jam menghabiskan pertemuan
dan gemuruh adalah tanda
suatu nanti tidak akan ada yang tersisa.
‘Sebaiknya kita bergegas,
sebentar lagi hujan turun dengan deras’

Pengadegan, 2012

 

Sumber: Oase Kompas.com 29 Maret 2012

Iklan