Tag


Terjadi lagi. Aku tidak dapat meneruskan perjalanan menuju kantor. Jalan di depan kontrakanku penuh dengan mobil yang antri. Klakson disana-sini bersahut-sahutan. Beginilah resiko orang hidup di Ibukota. Kemacetan selalu terjadi di jalanan, tak terkecuali jalan kecil yang menembus pemukiman padat warga. Dengan terpaksa aku harus memutar balik sepeda motorku mengambil arah yang lebih jauh.

***

Jalan ini lebarnya kira-kira sekitar tiga meter, kurang atau lebih sedikit aku kurang begitu paham. Namun sebagai ukuran, jalan ini hanya bisa dilewati oleh dua buah mobil berukuran sedang, itupun dengan sangat mepet dan membutuhkan waktu yang tak sedikit. Apalagi bila mobil besar semacam Pajero Sport, Fortuner atau Minibus berpapasan sudah pasti akan memakan waktu lebih dari lima menitan untuk mengakalinya.

Seperti halnya ruas-ruas jalan di Ibukota lainnya, jalan ini mulai ramai menjelang pukul tujuh pagi. Mobil-mobil dari arah Jalan Raya Pasar Minggu yang menuju Jalan Raya T.M.P Kalibata kebanyakan mengambil jalan alternatif ini. Begitupula dengan kendaraan dari arah Komplek Perumahan DPR atau Kalibata yang hendak menuju Pasar Minggu. Maka tak ayal lagi, jalan ini layaknya jalan utama meski hanya sebuah jalan sempit dengan panjang tak lebih dari seratus meter.

Sebetulnya tidak menjadi masalah apabila ada dua mobil yang kebetulan berpapasan di jalan ini, paling-paling membutuhkan waktu beberapa menit dan kecermatan sopir supaya mobil tidak bergesekan. Yang menjadi masalah adalah apabila ada mobil yang diparkir di tepi jalan. Hal ini sangat mengganggu. Mobil dari arah berlawanan tidak mungkin mengambil ruang yang hanya muat untuk satu mobil itu. Mau tidak mau, salah satu mobil harus mengalah, mempersilahkan kendaraan lainnya untuk lewat terlebih dahulu. Namun, namanya manusia, mempunyai sifat dan kepentingan masing-masing. Jam-jam sibuk, atau dikata rush hour ini membuat manusia di jalanan membawa kepentingan yang paling penting bagi dirinya. Ada yang tergesa-gesa harus mengantar anaknya pergi ke sekolahan, ada pula yang bergegas mengejar absen elektronik di kantornya atau ada yang hanya sekedar untuk mencari sarapan di Taman Jajanan Kuliner Pancoran yang memang tidak jauh dari jalan ini.

Alhasil, bila tidak ada yang mau mengalah, jalan sempit ini akan macet total. Tidak ada pergerakan. Yang ada hanyalah klakson-klakson yang berbunyi nyaring dari mobil-mobil dan motor.

“Woi, mundur dulu depan!”

“Maju! masih cukup itu!”

“Mepeeet! Teruuss! Jalan woy!!”

Begitulah kira-kira keributan yang terjadi. Dalam masa seperti inilah orang seperti Mas Karto itu diperlukan. Ia adalah penjaga warung kelontong di pinggir jalan. Saat kemacetan, ia turun ke jalan, membantu mengkoordinasikan kendaraan agar bisa melewati keadaan payah ini. Sungguh, ia tidak mengaharapkan imbalan. Setidaknya itu ditunjukkannya dengan tidak menengadahkan tangan setelah meloloskan mobil dari kepenatan. Ia mengangguk tulus ketika mobil itu hanya mengklakson pelan. Tanda bahwa itu berarti terima kasih.

***

Aku pernah mengutarakan kepada induk semangku, Ibu Markonah, mengenai pemecahan macet yang kerap terjadi di jalan depan rumah kontrakannya.

“Saya kira warga di sepanjang jalan ini harus membuat kesepakatan, Bu.” Ucapku setelah menyerahkan uang kontrakan bulanan.

“Di sepanjang jalan harus diberi tanda larangan untuk parkir. Tak terkecuali motor. Ini untuk mengurangi kemungkinan stuck kendaraan dari dua arah.” Begitu usulku.

“Percuma saja, Mas. Dulu pernah ada usul seperti itu, tapi cuma bertahan beberapa hari. Yang diparkir di pinggir itu kan mobil untuk usaha, bila harus diparkir di tempat lain mereka keberatan. Memangnya siapa yang mau membayar kerugian usaha mereka?” jelas Ibu Markonah yang ternyata di luar perkiraanku.

Memang benar, yang terbiasa memarkir mobil box itu adalah pengusaha catering. Kulihat usahanya memang cukup besar, sehingga untuk mendistribusikan hasil pekerjaannya harus menggunakan mobil box. Namun kurasa bukan hanya pengusaha catering yang memarkir mobil di depan rumahnya. Aku seringkali melihat mobil sedan atau jenis kijang terparkir di depan rumah-rumah yang berpagar besi tinggi itu. Padahal rumahnya sudah dilengkapi dengan garasi. Entah apa maksudnya, mungkin supaya ia tidak kerepotan untuk mengeluarkan mobilnya kembali dari garasi. Namun lihatlah akibatnya, jalanan justru macet karena ulahnya. Ah, dasar orang kaya!

Agaknya manusia memang merasa nyaman untuk melanggar sebuah kesepakatan bersama apabila seseorang sudah ada yang melanggarnya.

***

Sudah hampir satu tahun aku mengontrak rumah Ibu Markonah bersama tiga orang temanku yang satu kantor juga. Mengontrak rumah bersama mengurangi biaya hidupku di Ibukota ini. Meskipun kondisi jalan di depan kontrakan seringkali macet parah, aku tetap bertahan di sini. Jarak ke kantor dan biaya sewa menjadi alasannya. Lagipula aku masih sendiri, belum saatnya untuk memiliki—atau mengontrak—sebuah rumah sendiri.

Rumah utama Ibu Markonah sendiri tidak jauh dari kontrakan ini. Dahulu kontrakan ini adalah rumah utamanya, namun berhubung kemacetan yang kerap terjadi, ia memutuskan untuk pindah di depan jalan yang lebar. Tentu saja, agar bisa memarkir mobilnya yang ada dua itu.

Bulan ini adalah bulan terakhir aku tinggal di sini. Pasalnya, apabila sesuai dengan rencana, bulan depan aku akan melangsungkan pernikahan, menggenapkan setengah agamaku,  dengan seorang gadis yang sudah lama menjadi idamanku. Doakan saja semoga semuanya berjalan dengan lancar. Untuk itu, aku berencana mengambil cuti barang dua-tiga hari dari kantor. Oh iya, aku belum bercerita bahwa aku bekerja di Kantor Dinas Pembangunan Daerah. Yang setiap hari kerja harus absen elektronik menggunakan sidik jari. Itulah sebabnya mengapa aku menjadi salah satu orang yang merasa sangat dirugikan dengan jalan sempit yang macet di depan kontrakanku ini.

Kembali kepada persiapanku tadi, aku berencana untuk mengemasi barang-barang yang ada di kontrakan. Untuk sementara, setelah aku menikah, aku akan tinggal di rumah sepupuku. Sepupuku ini kebetulan diterima bekerja di Perusahaan Minyak Dubai. Keluarganya diboyong pula. Untuk itu, aku diminta menempatinya sembari mencari referensi tempat tinggal tetapku kelak.

Beberapa barang sudah kukemasi dalam kopor-kopor besar. Tak kukira, hidup menyendiri selama ini telah menghasilkan barang-barang yang luar biasa banyaknya. Kutebak butuh dua mobil pick-up untuk mengangkutnya. Sewaktu sedang rebahan di kasur tersebab kelelahan, aku dikejutkan dengan tiga ketukan di pintu kamarku. Aku bergegas membuka pintu kamar dan, Subhanallah, ternyata Ibu dan kakak iparku yang datang. Kucium tangan beliau dan segera mempersilahkan duduk di lantai yang beralaskan tikar.

“Wah, kukira cuma Amir yang mau menemani aku pindahan, Bu. Kok Ibu gak ngasih kabar?”

“Lha tadi sebelum berangkat Amir mampir rumah dulu, ya sudah, ibu ikut juga. Sepertinya kamu juga butuh bantuan nanti.” Jawab ibu sambil tersenyum.

“Walah, ntar ibu repot lho.. Lagian aku kan sudah ambil cuti.. Insya Allah semua beres kalo cuma aku sama Amir.” Jelasku.

“Sudah, penataan rumah butuh sentuhan tangan seorang perempuan. Sementara kamu belum menikah, ibu yang akan menata rumah sementaramu.” Jawab Ibu ingin mengakhiri ketidaksetujuanku membantu kepindahan ini. Akupun mengangguk tanda setuju dengan pendapatnya, bagaimanapun ia satu-satunya orang yang kucintai sepeninggal kematian ayah dua tahun silam. Aku mengambil tiga gelas, menyeduh teh dari air panas dispenser yang belum aku kemasi. Sangat cocok menambah semangat menjelang siang hari.

***

Sembari menikmati teh manis, kami mengobrol tentang persiapan pernikahan bulan depan. Segala sesuatu sudah dipikirkan oleh ibu. Ibu berkata, yang penting aku mempersiapkan diri ini untuk menjadi seorang suami. Sebab, suami adalah imam yang akan menjadi panutan dalam keluarga. Kemana suatu keluarga berlabuh, akan tergantung suami yang bertindak sebagai nakhoda. Aku mengangguk takzim. Mata ibu tiba-tiba berlinangan saat menasehatiku perihal menjadi seorang suami. Aku paham betul, Ibu teringat dengan Almarhum Bapak. Aku semakin tertunduk takzim.

“Eh, sudah..sudah.. Ayo berkemas. Nanti keburu siang lho.” Ibu membuyarkan kesedihan yang tiba-tiba merundung kami. Aku mengusap titik-titik air yang entah mengapa jatuh di pipi ini.

“Oh, iya, Bu. Yuk, Mas Amir, bantu aku mengangkut kopor-kopor ini.” Jawabku segera.

“Oke, tapi aku yang ringan-ringan saja ya. Tenagamu kan masih muda.” Jawabnya bercanda.

Aku tertawa kecil.

Begitu sampai di beranda rumah aku dikejutkan dengan suara-suara klakson yang sangat ribut. Orang-orang di jalan berteriak-teriak, seolah-olah ini adalah hutan yang tidak ada penghuninya. Beberapa orang sudah mulai berkumpul di depan pagar rumah kontrakanku. Mereka mengepal-ngepalkan tangan sambil terus berteriak.

“Woi! Ini mobil siapa? Parkir sembarangan.”

“Memangnya jalan ini kepunyaan nenek moyangmu apa?!”

“Woi, keluar. Pindahin mobil ini apa kami hancurkan!!”

Bersama Mas Amir aku bergegas keluar, membuka pintu pagar dan segera menuju mobil pick-up Mas Amir yang sedari tadi diparkir di depan pagar. Muka orang-orang terlihat merah, kukira di kepala mereka setan-setan sedang menghasut. Aku beristighfar. Kulihat ibu berkali-kali mengelus dada, dahinya penuh guratan memandang mobil yang antri di sepanjang jalan sempit ini.***

 

Pengadegan, 17 April 2011

Iklan