Tag

,


Dimuat di Kompas.com 20 Februari 2012

Di Atas Almari Jam Dinding Telah Mati

Di atas almari jam dinding telah mati
Jarum tidak lagi tunduk pada waktu
Dan di luar malam malas, bulan tidur pulas.
Adakah yang lebih hati dari rindu lima senti?

Kita pun bercakap seperti gerimis yang luruh
Lalu udara berdebu. Padahal ucap
Belum juga selesai satu kalimat.

Stop. Dengarkanlah rintihan di hatimu itu.
Begitukah degup jantung orang sekarat?
Aku mengusir cemas, tetiba suara jengkerik
Terdengar seperti sembilu.

Demi rindu lima senti, serta cinta seribu luka
Aku berucap: “tidakkah yang kau dengar itu
Selain kasih yang telah mati”

Dan angin pun berhenti.
Di sini kenangan tidak berfungsi lagi.
Malam kantuk. Dan di atas almari jam dinding telah mati.

2011

Kata Dengan Empat Huruf

pada mulanya adalah mimpi
lalu malam, demikian siang
berganti mengiringi koridor
waktu. waktu itu bersama-
sama dengan mimpi adalah
jalan menuju kenyataan,
dan tidak ada kenyataan
sebelum didahului oleh mimpi.

aku adalah kanopi dan tunggang
demikian sepokok batang pohon
yang menjulang, yang bertumbuh
dan kapan entah akan meluruh
–yang demikian tidak ada yang
dapat menebak ke mana ranting kan layuh

kau mungkin mengenalku
sebagaimana aku mengenal dunia
tapi tetap saja, dunia tidak mengenalku
namun satu, yang dapat kucecap
dari getir empedu waktu
bahwasannya mimpi akan membawaku
kepada kenyataan;
kata dengan empat huruf: Kamu.
2011

Di Tanjung Layar

ada yang terus berkabut
di ujung langit timur
tempat matahari berjanji;
tidak ada lagi kegelapan
setelahku.

dan angin berlayar
di buritan kapal
burung nasar mencoba
menangkap cuaca

dan laut itu terus saja
menjadi misteri tentang
angin yang basa
serta natrium klorida yang
tak pernah habis terjerang

Tapi di sini Tanjung Layar
tempat kesedihan hancur
oleh tubir karang yang mengulir
dan melankolia
sebatas asin yang beraroma
di angkasa

seorang puritan duduk
di sekoci, menghirup
samsu sebagai penawar waktu

“apa yang lebih bahagia daripada memandang kebebasan?”

maka pukat di tarik
seikat ikan bergidik
lalu diambilnya panci
3 ekor ikan terbaring senang

“bebaslah kalian, beranak pinaklah
dan muliakan 3 saudaramu yang
menjadi martir bagi manusia pandir”

langit mengangguk takzim
dan gelap mengilap
saat itu matahari telah berbohong
untuk ke-25.000 kali.

2011

Cermin
laci yang terbuka itu seolah mulut raksasa yang menganga.
di dalamnya berserakan;
sebuah foto hitam putih berangka 86, sebuah kartu ucapan
yang rompal di ujungnya –segala barang-barang yang tenggelam oleh waktu,
dan bau apak yang lebih tua dari detak jantungmu.

kau ambil selembar foto diri. segagang sisir mungil. dan sebuah pengilon
“waktu memang selalu begitu,” katamu

di sudut kayu yang robek, seekor kecoa mengintip.
barangkali menjaga pupa agar tidak hancur tergencet.
kau kini kesepian, tapi tersenyum melihat senyummu di kaca
yang begitu manis melihat dirimu.

sampai kau tak tahu, siapa sebenarnya yang benar-benar tersenyum.

akan selalu ada yang tersisa dari waktu.
seperti barang-barang yang merekam ingatan sendiri-sendiri
di dalam laci.

di luar, hujan tidak lagi terdengar, desah nafas memburu kini merasukimu.
“ini tak adil. sungguh! kembalikan hidupku yang telah lalu!”
engkau berteriak kepada gagang kaca pemberian ibumu
dan sisir itu kau ketuk-ketukan ke foto lusuh yang kau tancapkan di atas meja.
tapi semuanya bisu. tapi semuanya biru.

“sudahlah, waktu memang selalu begitu.”
ujar bayangan di cermin itu.

2011

Iklan