Tag

, ,


Dimuat di Annida Online, 10 Februari 2012

Namaku Sarah Jessica Parker, seorang perempuan berpenampilan biasa berumur kurang dari dua puluh tujuh tahun, mempunyai keluarga kecil yang terdiri dari ayah, ibu serta satu orang adik lelaki yang bandel—Bruce. Tidak ada yang istimewa dari penampilanku. Sekilas, aku mungkin mirip dengan wanita rumahan berumur 50 tahun. Dengan kacamata tebal dan muka yang lusuh karena terlalu lama berkutat dengan buku-buku.

Aku bekerja di Kantor Meteorologi dan Klimatologi daerah Gakona, Alaska. Ini mungkin yang sedikit membuatku berbeda, karena ternyata aku menggenggam keselamatan hidup manusia di dunia. Benar, aku ulangi, keselamatan hidup kalian semua.

Aku sedang tidak bercanda. Kalaupun kalian tidak percaya, setidaknya ada fakta jika di Gakona pernah hidup seorang gadis bernama Sarah Jessica Parker. Satu hal yang perlu kalian ketahui, apabila kalian telah membaca tulisanku ini, berarti aku berhasil mengabarkan kebenaran kepada dunia, meskipun barangkali aku telah tiada.

Baiklah, akan kumulai ceritaku…

***

Aku lulus dari Jurusan Meteorologi University of Alaska dengan predikat summa cumlaude. Keluargaku sangat bangga, aku pun demikian. Aku telah membuat sebuah pencapaian besar dengan mencatatkan namaku sebagai peraih nilai sempurna sepanjang sejarah universitas ini berdiri. Penelitian untuk kelulusanku adalah studi tentang ionosfer dan pemanfaatannya bagi kehidupan manusia. Aku yakin kalian tidak ingin mengetahui lebih lanjut tentang rumitnya penelitianku ini, tapi aku berharap semoga kalian dapat mengerti dengan apa yang kutuliskan.

Tidak sulit bagiku untuk menentukan langkah setelah lulus kuliah. Aku langsung direkrut oleh Badan Meteorologi dan Klimatologi AS dan ditempatkan di Gakona—Alaska, tak jauh dari tempat tinggalku. Tentu saja sangat menyenangkan ketika kita mendapatkan pekerjaan sesuai dengan kompetensi yang kita miliki. Bersyukurlah, karena kita bisa mengembangkan diri lebih baik lagi dan mencapai titik paling tinggi dari kemampuan kita. Keluargaku bahagia melihat kemandirianku, teman-teman ikut senang pula melihat bagaimana pencapaianku kini. Sampai detik itu, semuanya kelihatannya akan berjalan baik-baik saja.

Namun setelah beberapa waktu aku bekerja, aku menyadari bahwa perekrutanku karena satu hal. Amerika sedang mengembangkan penelitian tentang lapisan ionosfer di atmosfer bumi ini. Penelitian ini melibatkan Angkatan Udara AS, Angkatan Laut AS, Defence Advances Research Project Agency—Agensi Proyek Penelitian Pertahanan dan Universitas Alaska sebagai penyedia tenaga akademis. Pada awalnya, aku mengira penelitian ini hanyalah bersifat ilmiah semata. Maksudku, murni untuk penelitian dalam rangka mengembangkan teknologi tentang atmosfer yang nantinya dapat digunakan untuk kemaslahatan manusia. Tapi setelah lama berselang, aku menemukan hal-hal yang tidak wajar.

Contoh sederhana yang kulakukan adalah memanfaatkan lapisan ionosfer sebagai medium untuk keperluan radar. Lapisan ionosfer itu sendiri adalah lapisan atmosfer yang berisi muatan listrik tempat cuaca dan iklim berproses. Lapisan ini dapat digunakan sebagai radar bila susunan ion di dalamnya dimodifikasi. Bayangkan apabila hal tersebut dapat terlaksana. AS akan mempunyai kontrol terhadap suatu daerah selama daerah tersebut berada di bawah lapisan ionosfer, yang berarti adalah semua tempat di muka bumi ini! Maaf, aku tidak dapat menjelaskan detilnya, aku sedang berusaha mengumpulkan bukti-bukti. Waktuku terlalu sedikit di samping banyak hal yang secara garis besar harus kusampaikan.

Sebuah proyek dengan nama High Frequency Active Auroral Research Program (HAARP) akhirnya terbentuk. Aku sendiri berada di bawah divisi penelitian dan pengembangan teknologi. Kami telah membangun sebanyak 180 antena pemancar gelombang radio di atas lahan seluas 13 hektar. Letaknya di sisi barat Taman Nasional Wrangell-Saint Elias, di kotaku, Gakona—Alaska. Antena itu mirip jemari tajam yang akan mencakar-cakar angkasa. Lewat antena itulah kami akan menembakkan radiasi ke ionosfer. Dari situ dilakukan penelitian, dampak apa yang akan ditimbulkan atas radiasi yang terjadi.

Sejatinya, aku sangat menyukai pekerjaan ini. Sangat menantang dan mengerucutkan pemikiranku tentang satu hal: pasti ada seseorang—atau sesuatu—yang merancang alam semesta ini dengan begitu kompleks dan teratur. Tidak mungkin alam semesta ini terjadi begitu saja. Ya, aku yakin. Aku yakin sekali tentang hal itu.

Lama-kelamaan aku dapat membaca apa misi utama dari proyek ini. Pemerintah selalu menyembunyikan kebenaran di balik ini semua. Yang mereka sampaikan kepada publik adalah bahwa HAARP hanyalah proyek penelitian atmosfer semata. Ada beberapa kelompok yang tidak setuju, tapi pengaruh dan kekuasaan pemerintah sangat dominan di sini. Aku sendiri tidak bisa berbuat apa-apa selain terus menjadi tenaga peneliti.
Berdasarkan penelitianku, proyek ini sangat berbahaya. Beberapa kali uji coba penembakan muatan listrik ke ionosfer telah menyebabkan terganggunya cuaca di Texas dan badai yang datang secara tiba-tiba di Florida. Beberapa ilmuwan menyadari kejadian-kejadian itu tidak wajar. Namun, pihak pemerintah pandai betul menutupi bencana itu dengan isu pemanasan global.

Saat catatan ini kutulis, aku sedang mempersiapkan analisis ujicoba tingkat tinggi yang akan dilakukan. Kami akan menguji alat-alat baru serta perhitungan khusus dengan menembakkan daya sebesar 2 Gigawatt ke ionosfer. Daya ini bahkan cukup untuk mensuplai listrik satu wilayah Gakona.

Seperti biasa, aku akan melaporkan hasil risetku kepada Jenderal Hopkins, Kepala Divisi Pengambilan Kebijakan dan Strategi. Aku mengetuk pintunya, namun dari kaca pintu terlihat ia sedang menerima telepon yang sepertinya berasal dari orang penting. Ia menyuruhku menunggu sebentar melalui isyarat tangannya. Setelah selesai, aku memasuki ruangannya dengan tekad yang baru. Ya, aku membawa suatu pesan yang harus disampaikan dengan gamblang.

“Ada perkembangan baru, Sarah?”

“Well, tentang rencana kita melakukan ujicoba dalam skala massif, saya sudah membuat perhitungan dan memperkirakan beberapa dampaknya.”

“Coba ceritakan.”

“Berdasarkan perhitungan saya, perubahan komposisi ion dalam ionosfer pada skala besar dapat mempengaruhi kondisi cuaca secara ekstrim. Bahkan, iklim dapat pula terpengaruh. Mungkin dalam rentang waktu dekat tidak menimbulkan dampak yang signifikan. Namun, seperti halnya Butterfly Effect—di mana perubahan sekecil apapun di masa sekarang, akan berdampak besar di masa mendatang—dapat menimbulkan perubahan iklim secara drastis, bahkan sangat buruk. Dampak yang ditimbulkan bisa berupa badai, hujan berkepanjangan, tsunami, bahkan gempa yang maha dahsyat! Mohon Bapak mempertimbangkan kembali. Pertaruhan kita adalah umat manusia, Pak.”

Jenderal Hopkins tertegun sebentar, ia terlihat berpikir keras mencerna informasi yang kusampaikan. Dahinya berkerut-kerut. Ia menghela nafas panjang, akhirnya ia membuka bicara.

“Well, Sarah, aku memahami dan sepenuhnya mengerti tentang apa yang kau bicarakan barusan. Namun, kau tahu sendiri kita bekerja untuk negara. Dan perintah pimpinan negara inilah yang harus kita jalankan. Kita tidak punya pilihan lain.”

“Tapi, Pak… Coba pikirkan nasib…”

Okay. Ya, aku paham. Akan sangat banyak korban yang berjatuhan. Tapi hal tersebut sudah kita maklumi bersama, bukan? Bahwasanya untuk mencapai tujuan memang harus ada yang dikorbankan. Kukira perbincangan kita sudah selesai.”

Aku terdiam. Sungguh, saat itu juga aku ingin berontak, meninggalkan tempat ini untuk selama-lamanya. Semua proyek ini—apapun tujuan akhirnya—telah berubah menjadi senjata pemusnah massal yang mengerikan. Dan ironisnya, akulah salah satu aktor intelektual di balik ini semua. Oh, Tuhan, betapa hinanya aku.

***

Semenjak pertemuan dengan Jenderal Hopkins, aku tak lagi bersemangat bekerja. Aku sangat menyesal menjalani pekerjaan ini. Sebagian besar model penelitian berjalan atas usahaku. Tidak mungkin aku akan dilepaskan dengan mudah apabila mengundurkan diri. Bahkan, akhir-akhir ini aku mendapat tekanan dari pihak militer. Tentang keluargaku di Gakona, militer tidak bisa menjamin keselamatan mereka apabila aku berhenti dari proyek ini. Dapat dikatakan, sekarang aku hanyalah robot yang digunakan untuk membuat mesin penghancur massal.

Namun aku tidak hilang akal. Aku bertekad, aku harus menghentikan proyek biadab ini. Aku telah merumuskan caranya: mengabarkannya kepada publik adalah jalan yang terbaik. Tentu dengan bukti-bukti yang kuat. Oleh karena itu, aku sudah mengumpulkan beberapa salinan dokumen proyek ini. Aku berencana untuk memberitahukan kebusukan proyek ini kepada teman-temanku yang bekerja di surat kabar, televisi atau media lainnya. Kami dulu pernah tergabung dalam satu organisasi eksklusif di kampus, Phi-Alpha. Aku mempercayai betul jika mereka masih memegang prinsip-prinsip yang dulu kami sepakati bersama.

Mungkin usahaku ini akan membutuhkan waktu yang lama. Atau bila tidak beruntung, namaku sudah dibersihkan dari proyek itu. Tapi aku terus berusaha semampuku. Setelah kalian membaca pesanku ini, barangkali sudah terjadi tsunami hebat, banjir bandang atau gempa bumi berkekuatan besar. Maka, bersama ini pula, aku ingin meminta maaf kepada seluruh umat manusia, khususnya kepada korban dari rekayasa bencana alam ini. Aku sangat menyesal, sungguh.

Semoga usahaku dapat menebus kesalahanku.

Temanmu yang menyesal,

S.P

Pengadegan, Januari 2012

Iklan