Tag

,


Dimuat di Tabloid Cempaka Edisi 39.XXII. Tgl 24-30 Desember 2011

#1

Girang benar hati Kartolo melihat perut istrinya yang hamil itu telah memasuki bulan kesembilan. Berarti, kalau menurut hitungan ilmiah yang Pak Mantri sebutkan pekan lalu, sepuluh hari lagi ia akan beroleh anak. Ya, anak pertama yang tentu akan menjadi penerus generasinya. Seorang buah hati, yang akan tumbuh ranum dalam relung dadanya.

Kartolo semakin giat bekerja. Ia paham, sebentar lagi kebutuhannya akan membengkak seiring dengan hadirnya sang buah hati nanti. Ia harus menyediakan susu, baju-baju mungil, belum lagi tetek bengek peralatan mandi dan kesehatan bayi.

Meski Kartolo hanya seorang buruh nelayan, Ia ingin kelak anaknya akan mengubah takdir miskin yang sudah mengakar pada keturunan keluarganya. Seringnya, apabila ia melewati kilang minyak di Areal 70, di dekat pesisir pantai Teluk Penyu itu, Ia akan berhenti sebentar. Kartolo mengamati karyawan-karyawan berpakaian dinas yang menggunakan topi proyek berwarna biru dengan lambang huruf  P berwarna-warni itu. Ia berharap, anaknya kelak akan menjadi salah satu di antara mereka.

Bagi Kartolo, mungkin kelihatannya mustahil. Tapi toh segala sesuatu di dunia ini bisa jadi mungkin. Contohnya, anak Basri si tukang becak itu. Selepas lulus Es Em A dan mencoba mendaftar di Pertamina, ia diterima.

“Sekarang sudah bukan jamannya sogok-menyogok lagi, Kar. Asal anakmu nanti punya otak encer baguslah masa depannya.” Begitu seloroh Basri, entah itu nasehat atau kalimat yang menyombongkan anaknya.

#2

Sebagaimana orang-orang tua lain di daerah pesisir ini, Kartolo sangat berharap anaknya yang lahir nanti adalah laki-laki. Berbagai cara sudah ia lakukan untuk menwujudkannya. Seperti usul dari Samin, buruh nelayan sejawatnya di perahu kepunyaan Saudagar Kunto.

“Kamu kalo kepengen punya anak laki-laki yang sukses mesti pake persiapan yang matang.” Ucap Samin sambil mendorong perahu itu merapat ke pantai.

“Persiapan apa, Min?”

“Ya persiapan sebelum ‘membikin anak’. Nih, aku kasih tahu ya, perkara takdir itu Gusti Allah yang menentukan. Kita sebagai manusia ya mesti berusaha,” jawabnya sambil mengikat tali ke tiang pancang di pinggir pantai.

“Terus apa saranmu itu?” tanya Kartolo penasaran.

“Nah, lakukanlah pada malam Jumat, Kliwon kalau bisa. Pada saat rembulan naik sepertiga lengkung langit. Terus, jangan sekali-kali posisimu ada di bawah, teruslah di atas. Itu waktu yang sangat baik dan cara yang jitu,” Jelas Samin sambil terkekeh.

“Ah, ada-ada saja kamu, Min.” Kartolo mengabaikannya namun sesungguhnya hatinya mengangguk-angguk, membenarkan pernyataan Samin.

Itulah salah satu usaha yang sudah Kartolo coba sekitar sembilan bulan lalu demi mendapatkan anak laki-laki. Sampai usia kehamilan kesembilan, Santi, istri Kartolo belum mengetahui jenis kelamin bayi yang dikandungnya. “Coba di USG saja, bisa ketahuan itu, Mba.” Begitu saran Wati, pembantu juragan Kunto. Namun, jangankan USG, memenuhi kebutuhan sehari-hari saja ia masih kurang.

#3

Mengenai permasalahan memberi nama, Kartolo menyadari sepenuhnya, bahwa nama merupakan suatu hal penting yang harus ia pikirkan. Nama adalah doa bagi orang-orang yang memanggil dan menyebutnya. Setiap kali orang memanggil nama kita, setiap itulah harapan-harapan akan diri kita disebutkan. Maka dari itu, Kartolo harus memikirkannya masak-masak. Jangan sampai nama anaknya nanti justru menjadi olok-olok bagi dirinya sendiri dan keluarganya.

“Dek, kira-kira nama yang cocok buat anak kita nanti apa, ya?” tanya Kartolo pada suatu malam di sebuah ranjang bambu. Kartolo mengusap-usap kepala Santi yang sedang tiduran di dadanya.

“Hmm.. karena ini anak pertama kita, aku serahkan kepada Mas saja. Aku pasti setuju dengan pilihan nama Mas,” jawabnya sambil tersenyum. Ah, senyum itu. Senyum yang telah melumerkan hati Kartolo.

Kartolo menerawang, memikirkan kira-kira nama apa yang cocok buat anaknya kelak. Nama Bambang, Agus, Warno, Santo paling sering dipakai di daerah sini. Pasti ia takkan menggunakannya. Nama anakku nanti haruslah nama yang besar. Nama yang mudah dan akan diingat terus oleh orang. Gumam Kartolo dalam hati.

Kartolo lantas teringat pada sejarah yang turun temurun Ia dapatkan dari cerita-cerita orang tua. Cerita yang jarang didapatkan di bangku-bangku sekolah. Ya, jangankan kuliah, lulus SD pun Kartolo tidak pernah.

Ia ingat tentang cerita semasa zaman perjuangan melawan penjajah Jepang ada seorang pejuang dari daerah Cilacap. Kusaeri namanya, ia adalah seorang Bundanco (pemimpin regu) Pasukan Pembela Tanah Air (PETA). Dengan berani ia memimpin regu dan rakyat yang mengangkat senjata, melawan penjajah. Meskipun pada akhirnya Ia tertangkap oleh Jepang, setidaknya perjuangannya terus dikenang oleh masyarakat. Seperti itulah kira-kira keinginan Kartolo. Anaknya nanti harus berguna bagi nusa dan bangsa. Maka dengan senyum mengembang, ia katakan kepada istrinya,

“Dek, kalau anak kita nanti laki-laki, mau aku beri nama Muhammad Kusaeri.”

Istrinya terkesiap, “Wah, nama yang bagus mas. Terus kalau perempuan?” tanya istrinya kemudian.

“Nanti lah itu, aku pikirkan lagi. Yuk, sekarang tidur dulu.” Jawab Kartolo singkat.

Mereka kemudian berpelukan, menanti hari esok yang penuh dengan harapan.

 

#4

Begitulah, jam berganti jam. Hari berganti hari. Agaknya, waktu adalah perkara yang takkan  pernah bisa dihindari. Hari ini, adalah hari bersejarah dalam hidup Kartolo. Ia sengaja tidak menarik perahu, karena sedari pagi Santi merasakan sesuatu dalam perutnya bergolak hebat, seperti dentuman-dentuman yang hendak merobohkan dinding perutnya. Sebentar lagi pasti Santi akan melahirkan.

Kartolo segera membawa Santi ke Bi Ijah, seorang perempuan yang terbiasa membantu ibu hamil melahirkan di desa ini. Bidan ataupun Dokter Kandungan? Tidak laku, karena nelayan lebih percaya kepada Bi Ijah, disamping biaya selangit yang harus dibayar kepada mereka.

Menit-menit di bilik persalinan rumah bambu Bi Ijah, seperti saat-saat gawat badai laut selatan. Kartolo begitu gusar. Ini anak pertamanya, ini buah hati yang akan meneruskan nasabnya, bagaimanakah rupanya—atau seperti apakah ia?

Apabila kita menunggu, memang segala sesuatu terasa begitu lama, rasa-rasanya seperti pemerintah yang belum saja bisa membuat rakyatnya bahagia. Barangkali itu alasan orang tidak suka menunggu. Namun tentu saja, penantian pasti akan berakhir. Tangis bayi terdengar membahana di bilik persalinan Bi Ijah. Pintu bilik perlahan dibuka, Bi Ijah keluar dengan wajah murung. Seperti penantian rakyat yang belum juga sejahtera.

“Bi, bagaimana anak saya?”

“Sudah lahir, Laki-laki.”

“Isteri saya?”

“Baik-baik saja, keduanya selamat.”

“Alhamdulillah! Terima kasih, Tuhan!”

Kartolo segera menyalami Bi Ijah. Kebahagiaan membuncah di dadanya. Doa-doanya selama ini ternyata didengar oleh Tuhan. Dan saran dari Samin, oh, tentu saja harus dicoba oleh setiap pasangan yang baru saja menikah! Kartolo segera manghambur ke bilik persalinan, ingin segera menemui isteri dan buah hati barunya. Namun apa yang tercermin di wajah Bi Ijah? Hanyalah kemurungan..

 

#5

Kartolo tertegun. Isterinya terbaring lemah di balai-balai bambu, dibalut kain jarik bermotif batik kawung. Di sampingnya, terbaring tubuh seorang bayi mungil. Masih merah. Jenis kelaminnya sudah pasti laki-laki yang terlihat jelas dari organ genitalnya. Namun ketika Kartolo melihat wajah bayi mungil itu, hatinya berteriak.

Kepala bayi Kartolo sangatlah besar. Tiga kali ukuran kepala bayi normal, atau kalau dikira-kira, dua kali ukuran kepalanya. Saking besarnya kepala bayi itu, kelopak matanya tertarik ke atas, seperti orang yang sedang melotot. Beberapa kali bayi mungil itu kepayahan berusaha mengerjapkan matanya yang lebar. Tangisnya masih berderaian, menyayat hati Kartolo perlahan-lahan.

Kartolo bersimpuh lemas. Ia ingin menangis, namun isterinya memandangnya dengan teguh. Inilah anak kita, Mas. Anak yang telah dititipkan Tuhan kepada kita. Begitu, mungkin, kata sebuah mata kaca yang memandang Kartolo dengan begitu sendu.***

 

Pengadegan, Juli 2011

Iklan