Tag


Dimuat di Oase kompas.com 12 November 2011

 

Tinggal di kota besar harus pintar-pintar merencanakan hidup. Mulai dari keuangan, rencana membikin anak, menyekolahkannya sampai usaha di hari tua kelak. Semuanya harus direncanakan. Bila tidak, tentu masa depan kita akan berantakan.

Aku masih mengingat-ingat nasehat ibu dahulu sebelum pergi merantau ke kota ini. Sebuah nasehat yang, tentunya bila dilaksanakan sedari awal, aku tidak akan hidup kesusahan seperti ini. Paling tidak, aku bisa berdagang. Mempunyai toko yang cukup besar serta mempunyai pekerjaan tetap dari berjualan. Namun waktu tidak dapat diputarbalik. Warisan dari ayahku telah habis kupertaruhkan di meja judi. Hingga keluargaku –istri dan kedua anakku– harus hidup terlunta-lunta, memperjuangkan hidup dengan bekerja apa saja. Halimah, istriku, membuka jasa pencucian baju dari tetangga-tetangga sekitar. Tentu dengan tarif yang sangat murah, karena lingkunganku adalah daerah pinggiran kota yang kebanyakan bukan kalangan berada. Minah, anak pertamaku yang dengan susah-payah kusekolahkan sampai dengan SMA, berjualan kue buatan istriku. Sedang Juned, anak bungsuku, berjualan gorengan di sekolahnya meski ia masih duduk di kelas lima SD. Tuntutan hidup di kota besar memang sangat berat. Beruntung jika esok pagi kita masih bernafas, yang menandakan kita masih punya kehidupan.

***

Tok-tok! Kaca mobil sedan yang sedang kutumpangi tiba-tiba diketuk oleh seseorang. Aku terbuyar dari lamunan. Kubuka kaca jendela dengan panel otomatis.

“Iya, Pak? Taksi?”

“Iya, tolong antarkan saya.”

Seorang pria necis (kutebak umurnya sekitar empat puluh tahun) segera membuka pintu belakang taksi yang sedang kukemudi. Pakaiannya sangat rapi, berjas, berdasi dan bau parfum menyeruak dari badannya yang masih ramping dan bidang.

“Tujuannya kemana, Pak?”

“Ke arah Cililitan. Jalan saja, nanti saya tunjukkan.”

Ia membenarkan posisi duduknya sambil mendesah. Aku mulai melajukan mobil sedan meninggalkan trotoar di samping penjual nasi goreng yang sedang terkantuk-kantuk menunggu pelanggan yang tidak kunjung datang. Sepanjang perjalanan, penumpangku lebih banyak diam. Sesekali ia mengamati handphone-nya, bermain pesan mungkin. Aku menebak, ia adalah seorang manager pada suatu perusahaan swasta. Namun mengapa malam-malam seperti ini ia memilih taksi? Tentu seharusnya ia mempunyai mobil pribadi dengan tambahan seorang sopir. Hmm, atau mungkin aku salah mengira pekerjaannya. Di kota besar orang-orang yang berpakaian jas dan sepatu mengkilat bukan hanya direktur atau manajer saja. Seorang sales penjual obat yang keliling menyambangi rumah-rumah juga terkadang berpakaian sangat elok. Ah, peduli setan. Hanya uang yang aku pedulikan.

Sedan yang kukendarai kira-kira seratus meter lagi akan sampai di Cililitan, pusat pertokoan yang biasanya menjadi tujuan penumpang. “Setelah ini kemana, Pak?” jawabku memecah kebisuan. “Oh, belok kanan. Ke arah Kalibata.” jawabnya singkat. Aku mengangguk, memberi tanda lampu belok kanan kemudian bersiap untuk membelok. Dari kaca spion di atas kepalaku kulihat laki-laki tadi mengambil handphone lainnya di saku jasnya, kemudian berusaha menghubungi seseorang. “Halo! Halo! Komar? Gue udah mau nyampe nih! Lo udah siapin? Bagus. Berapa nih? Apa?! Mahal bener. Oke, oke. Tapi awas ya kalau barangnya jelek. Gue jamin gak akan bayar dan gue gak akan pakai lagi barang lo. Oke!” Lelaki itu menutup telepon genggamnya. Hidungnya kembang kempis. Matanya memandang nanar, geliat gairah tengah berkobar disana. Ia serupa musang yang sedang terengah-engah hendak menangkap mangsanya, penuh nafsu dan hasrat.

Jam di dashboard menunjukkan pukul 20:30, waktu yang masih sore untuk ukuran kota Jakarta. Jalanan di Ibukota sepertinya tidak pernah mati. Di jam ini, jalanan masih saja ramai, masih saja macet. Aku mengambil jalur yang justru rawan dengan kemacetan. Aku baru ingat, di Jalan Kalibata sedang ada pembuatan fly over sehingga para pengguna jalan harus berbagi untuk melewati jalan sempit yang dibuka. Sebenarnya tadi aku bisa saja mengambil jalan lewat M.T Haryono bila memang tujuan terakhir adalah Kalibata. Namun biarlah, toh dia yang menginginkannya.

***

“Ya, Hallo Mah..” suara lelaki tadi lagi-lagi memecah lamunanku.

“Iya, mah..  Maaf ya, Papa malam ini sepertinya nginep di kantor, Ma.”

“……”

“Iyaaa.. banyak banget kerjaan nih. Deadline nya besok, udah gak bisa ditunda lagi Mah..”

“……”

“Buat apa sih Papa bohong. Bener deh.. Ya, iya.. nanti kita liburan ke Bali setelah kerjaanku selesai. Oke, jaga anak-anak ya.. Daah..”

Klap. Handphone ditutup. Lelaki itu lagi-lagi mendesah, memandang ke jajaran bongkahan beton yang hendak dipasang di kanan-kiri jalan. Lelaki ini pasti habis berbohong. Bagaimana mungkin ia sedang mengerjakan tugas di kantor, bila ia sedang bersamaku berada di dalam taksi menjelajahi jalanan Kota Jakarta di malam hari. Sungguh seorang tipe lelaki yang tidak setia kepada keluarganya, dan meski aku bukanlah lelaki yang benar-benar baik setidaknya aku mempunyai prinsip yang kuat terhadap keutuhan keluarga.

Kukemudikan mobil sedan dengan hati-hati melewati jalan sempit yang sedang direnovasi. Di kolong jalan layang yang baru saja jadi separuh itu terlihat dua bayangan di atas sepeda motor yang tengah berpelukan. Tidak begitu jelas, namun bila diperhatikan, kepala dua bayangan tadi saling berdekatan, berimpitan, sesekali melepas kemudian menyatu lagi. Mereka saling berciuman, mungkin.

***

“Pak, belok ke kiri. Ke arah Mall!”

Aku terkesiap. Segera kubelokkan mobil menuju ke sebuah Mall di bilangan Kalibata. Dari luar, Mall terlihat sepi. Rata-rata Mall di Jakarta memang tutup pada pukul sembilan malam. Kulihat beberapa orang sudah keluar dari Mall, kebanyakan adalah pemuda-pemudi yang keluar setelah melihat pemutaran bioskop pada jam malam. Tangan mereka saling menggenggam erat, beberapa meletakkan tangannya di pundak pasangannya, saling berpelukan dan berciuman. Ah, sudah benar-benar kacau pemuda-pemudi  kota ini, pikirku. Berapa umur mereka? Palingan baru belasan, namun sudah berlaku seperti orang-orang dewasa yang sudah menikah saja. Hmm, barangkali mereka sedang dilanda cinta dan romansa. Akan tetapi, tentu bukan dengan bersikap seperti itu. Tentu, aku akan melarang anak-anakku bila berkelakuan seperti itu.

“Tunggu sebentar di sini, Pak.” Aku mengangguk. Lelaki itu keluar dari taksiku, kemudian berjalan menuju seorang laki-laki yang sedang duduk di emperan Mall, tak jauh dari tempatku parkir.

Di area parkir terbuka ini, mobil-mobil masih banyak yang terparkir kendati malam sudah beranjak pekat. Di suatu pojok parkir yang remang-remang kulihat seorang gadis muda sedang berdiri di samping pintu suatu mobil. Pertama-tama ia mengetuk kaca mobil. Seorang pemuda membuka kaca itu. Gadis itu terlihat merayu, ia meletakkan tangannya pada pintu mobil yang sudah terbuka kacanya. Ia bersandar dengan tubuh membungkuk ke depan sehingga dengan pakaiannya yang hanya kaos ketat lekukan dadanya telah menahan sang pemuda untuk berlama-lama berbicara dengannya.

Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk bercakap-cakap. Pintu mobil segera dibuka. Si Gadis langsung masuk ke dalam, duduk di samping kemudi. Kemudian mobil bergegas meninggalkan tempat parkir, menuju ke kenikmatan dunia. Gadis itu, kusebut sebagai benalu malam. Para perempuan yang telah memilih jalan malam sebagai jalan hidupnya. Menghisap pria-pria kesepian, atau hidung belang, demi sesuap nasi untuk esok hari.

Aku sempat terkejut ketika kaca mobilku diketuk. Pria tadi rupanya. Segera kubuka kunci pintu belakang melalui panel otomatis. Pria itu segera masuk, diikuti seorang wanita muda. Aku berpikir ia adalah salah satu dari benalu tadi. Mesin mobil segera kuhidupkan, aku mencuri pandang dari kaca di atas kemudiku. Rasa-rasanya, aku kenal dengan perempuan yang duduk bersamanya. Meski dia memakai make-up, aku kenal benar raut wajahnya. Hidungnya, yang lumayan mancung itu. Rambut lurus sebahunya. Serta pandangan matanya. Ya, tidak salah lagi. Pandangan sendu itu hanya satu-satunya kepunyaan wanita itu. Maka, untuk mengobati rasa penasaranku yang semakin menggebu, aku segera memalingkan wajahku ke belakang. Saat itu juga, dunia ini seakan hendak kiamat. Gemuruh dalam dadaku berdebar-debar. Mataku hampir-hampir keluar dari kelopak matanya. Kemudian aku berteriak yang seakan begitu saja keluar dari mulutku, tanpa mempedulikan kerasnya suara yang terjadi.

“Minah??!!!!!!” ***

Kalibata, November 2010

Iklan