Tag

,


Dimuat di Oase Kompas.com 29 Oktober 2011

 

Sonet 5 : Tentang Pelangi yang terbit di Malam Hari

Bila mentari telah merangkak pada ujung barat

lereng Merapi diamdiam, awan akan bersitegang

dengan kegelapan — yang mulai merayap saat

nyanyian malam dari gangsir telah berdendang.

 

Rembulan telah menisbatkan diri sebagai ratu malam

pada tiga jam setelah gelap telah merayap sempurna,

Gerimis merintik sebab awan tersakiti oleh malam

yang telah mengusir segala keindahan angkasa.

 

Pada kesepian malam aku sedang mendulang rasa

dari sejumput hujan yang telah mengairi talang

serupa kata yang sedang diolah oleh penyair cinta:

tanpa kebohongan, tanpa deraian kata sayang.

 

di Langit tidak ada kegelapan. dari tirai gerimis

yang tertempa rembulan, aku melihat pelangi tengah tersenyum manis.

2010

Semacam Ode bagi Pertemuan Kita

Aku telah mengenalmu jauh sebelum kita bertemu pada sesorean bisu

di sebuah gedung tua bercat kelabu.

Kita telah meninggalkan sajak. Tanpa katakata, tanpa suara yang jelas terekam oleh gendang telinga. Barangkali hanya waktu yang telah merekam pertemuan kita.

“Adakah yang lebih getir dari pertemuan tanpa perjumpaan?” tanyaku dalam waktu yang kini semakin jenjang, meninggalkan kita yang sibuk dengan perkara dunia. “Kita bisa berjumpa bila kita kita sudah berkenalan” begitu mungkin jawabmu yang memang selalu akur dengan nalar.

Aku ini orang pandir, tak paham tentang dunia yang semakin getir. Hanya mengerti bagaimana pohon telah setia menunggu hujan.

Aku telah jauh mengenalmu sebelum gerimis yang berbaris ritmis telah berubah menjadi hujan yang meruah, sebelum waktu telah mengikis usia yang semakin kelabu. Dan di langit barat, pelangi telah memandangku. Menunggu hujan, menunggu matahari tanpa kegamangan.

2010

 

Karang

Kita telah berhimpun dalam gugus karang dalam luas samudera tak berhingga.

Ombak-ombak berdebur, tsunami sesekali bergulung. Ikan-ikan telah meninggalkan

sarang, sebilah pedang yang kukira teripang telah menancap di dadaku, gurita

telah tertangkap nelayan sebagai penyambung kehidupan.

Tidak ada yang hilang dari kita ketika semuanya pergi, ketika semua hilang.

Sebab karang takkan bergeser oleh gelinjang badai. Kita adalah karang

tempat berlindung ikan-ikan, tempat kokoh bersauh jangkar kapal.

Barangkali, hanya ketiadaan yang bisa membuat kita lapuk. Membuat kita tiada

setelah ketiadaan menimpa kita semua.*

2010

Terzina: Yang tak Berubah

Tentang kenangan yang terlipat

Tersendat melintas waktu

Mengapung dalam sendu

 

Engkau, terperangkap dalam masa lalu

Tetap terkenang dalam hati

Sampai mungkin aku mati.

2010

 

 

M. Nurcholis lahir pada 22 Juni 1986 di kota Cilacap. Menulis Puisi dan Cerpen di waktu senggangnya. Kontak: Twitter: n_choliz Facebook: Muhammad Nurcholis

Iklan