Tag

, , , ,


Dimuat di rubrik Oase Kompas.com. Tautan: Cerpen.

 

:frau

Panggung sudah siap. Beberapa ornamen etnik berupa porselen-porselen unik tertata rapi di jajaran rak yang berfungsi sebagai latar belakang panggung. Di sebelah kanan dan kiri, tergolek properti berbentuk buku-buku tebal berwarna hijau dan merah. Bola dunia raksasa yang ditopang oleh kerangka baja berdiri kokoh di sudut kanan panggung, di samping rak yang berisi porselen giok itu. Di langit-langit panggung, digantung layar putih yang berfungsi untuk menampilkan lirik atau partitur lagu yang nantinya akan dipentaskan. Dan di tengah panggung—ini yang terlihat begitu anggun—sebuah piano elektrik berwarna hitam metalik sedang bersimpuh. Cahaya amber temaram menyinari panggung yang harmoni ini. Penonton, tentu saja, sedang menunggu secara tidak sabar siapa yang akan muncul dari ujung tirai sana.

Di tempat duduk lajur kesebelas, nomor dua belas, seorang pria sedang berharap-harap cemas, menanti seseorang yang akan mengisi panggung malam ini sendirian. Di sampingnya, seorang gadis berambut pirang dan bermata safir, beberapa kali meminta penjelasan tentang siapa artis yang akan tampil malam hari ini. Pria tersebut menjawab sekenanya dalam Bahasa Inggris. Gadis di sampingnya ini adalah turis yang sedang ia guide. Untuk mendapatkan penghasilan sampingan, pria tadi bekerja menjadi tour guide. Dan kini, di acara International Literary Biennale, ia bertugas memandu seorang turis wanita yang jauh-jauh hari sudah memesan jasanya melalui internet.

Sesungguhnya ia sedang berdebar menantikan seorang gadis yang akan memainkan piano anggun itu. Gadis yang, kalau boleh saya ceritakan sedikit, telah menarik perhatiannya dari ayunan lentik jarinya yang sangat lihai menekan tuts-tuts piano. Serta suara vokalnya yang begitu membius, seperti Muse yang mendendangkan lagu-lagu bagi para dewa Athena. Gadis pemain piano ini pertama kali dikenalnya saat mengisi sebuah acara sastra di Bentara Budaya Yogyakarta. Saat itu, lelaki ini (yang lagi-lagi sedang bersama seorang gadis berambut pirang dan bermata cokelat) begitu terkesima. Tak lama setelah itu, Gadis Piano  mengeluarkan album rekaman yang langsung meledak. Dan tentu saja, pria tadi begitu antusias mencari setiap rekaman yang dipentaskan Gadis Piano. Baik rekaman dalam bentuk kaset, CD, atau unggahan video di Youtube. Dan perlahan-lahan, pria tadi mempunyai perasaan khusus terhadap Gadis Piano ini. Tidak dapat dipungkiri, bahwa pria ini menyukai Gadis Piano itu, secara perlahan-lahan pula.

***

Piano metalik hitam yang bernama Oscar itu berusaha untuk memperkencang sekrup-sekrupnya. Beberapa tuts ia kibaskan untuk menggeser debu-debu yang bakalan mengotori tangan lentik tuan puterinya nanti. Oscar sangat mencintai tuan putrinya ini. Kemanapun Gadis Piano pergi, Oscar selalu menemani di setiap pertunjukannya. Malam ini adalah pertunjukan ke tujuh puluh sembilannya bersama Gadis Piano. Dan sejauh ini, setelah pertunjukkan usai, Gadis Piano akan mendapatkan gemuruh pujian dari panggung penonton. Namun Sang Gadis Piano adalah manusia yang rendah hati. Dengan bangga ia katakan bahwa penampilannya adalah karena peran dari Oscar pula. Dan sekali lagi pengunjung akan bergemuruh, khusus bagi piano hitam itu. Ini tentu sangat menyenangkan bagi Oscar.

***

Dari balik tirai, Gadis Piano itu muncul. Ia mengenakan gaun terusan chiffon berwarna cokelat, dengan rambut tergerai yang dihiasi beberapa jepet di bagian samping-samping telinganya. Dengan langkah-langkah kecil ia memasuki panggung sambil membawa cangkir porselen, mungkin berisi minuman. Ia segera meletakkan cangkir itu di meja kecil samping pianonya, lalu duduk dengan terlebih menyingkap rok bagian belakangnya ke samping. Setiap gerakannya tak pernah luput dari tatapan pria di tempat duduk nomor dua belas tadi.

Gadis Piano melempar senyum ke seluruh pengunjung. Ia lalu mengucapkan beberapa kata pembuka. Cara ia berbicara sungguh kekanak-kanakan. Maksudnya, aksen yang ia ucapkan begitu renyah dan kata per kata yang diucapkan secara terbata-bata membuat penonton tersenyum dan tertawa berderaian. Mungkin memang begitu ciri khasnya. Dan tentu, itu akan tetap memukau bagi para penggemarnya. Terutama adalah pria tadi yang kini entah mengapa sedang tersenyum-senyum sendiri.

Seperti pertunjukan biasanya, Gadis Piano itu akan melempar pandang ke segenap penjuru penonton. Mungkin para penonton tidak menyadarinya, ada seseorang yang sedang ia cari. Seorang penonton pria yang selalu menonton pertunjukkannya. Ia hafal betul wajah pria itu. Pria berwajah tirus dengan tatapan mata yang tajam. Rambut sedikit ikal, kaos oblong dan tas ransel berisi kamera yang kerap menangkapnya saat ia sedang berpiano. Kini Gadis Piano itu tersenyum sekali lagi. Bukan kepada seluruh penonton karena ia akan memulai pertunjukannya, tetapi karena ia telah menemukan pria yang ia maksudkan tadi di antara penonton yang hadir, dan Oscar—piano di depannya—tahu hal itu. Meski sekali lagi, ia merasa sedikit gundah dengan kehadiran gadis pirang di sampingnya yang kerap berbincang-bincang dengannya.

Gadis Piano menarik nafas panjang, kemudian nada pertama berdenting dari Pianonya, disusul nada kedua, ketiga dan seterusnya yang terdengar sangat beraturan. Gedung pertunjukan kini menjelma gugusan awan dengan desau angin yang begitu lembut menerpa telinga orang-orang di dalamnya. Pada giliran berikutnya, bait-bait puisi Senja di Pelabuhan Kecil karya Chairil Anwar terlantun begitu merdu berdeburan dengan suara piano yang perlahan menghadirkan kesepian bagi pria di tempat duduk nomor dua belas itu.

Tiga puisi masing-masing dari Chairil Anwar, Asrul Sani dan Sanusi Pane begitu lantun dibawakan Gadis Piano. Musikalisasi puisi ketiga maestro ini menjadikan Gadis Piano maestro baru. Lalu kita tengok di tempat duduk nomor dua belas tadi. Pria yang tiba-tiba merasa kesepian tadi terus mengembangkan senyum. Ia tak habis pikir, barusan tadi di gedung ini hanya Ia dan Gadis Piano yang ada. Masalah penonton lain, kita kesampingkan dulu. Cerita ini tidak akan segera berakhir bila kesan tiap penonton saya ceritakan.

Ada orang-orang yang memang diciptakan untuk dikagumi, pikir Pria Kesepian. Mari kita sebut namanya demikian supaya ia dapat dibedakan dengan pria-pria lain di ruangan itu. Baginya, Gadis Piano hanyalah sosok yang dapat ia lihat dari kejauhan. Seperti mobil-mobil mewah dalam showroom mobil bagi rakyat jelata. Jangankan untuk mengendarainya, untuk menyentuhnya pun tidak ada niatan yang terbersit sama sekali. Maka jadilah ia penonton setia, dan rasa berbunga-bunga dalam dadanya cukuplah ditutupi oleh kaos oblongnya.

Gadis Piano disambut keriuhan tepuk tangan dari para penonton. Ia pun tertawa kekanak-kanakan. Ia mengelus-elus Pianonya, Pianonya tersenyum kepadanya. Yang lebih membuatnya bahagia adalah Pria Kesepian di tempat duduk nomor dua belas terlihat sangat terhibur. Mukanya cerah dan matanya begitu legam berbinar. Ah, ingin rasanya ia mendapatkan ucapan atau tepuk tangan khusus darinya. Namun apa daya, Pria itu—sebagaimana pria-pria yang datang pada pertunjukannya—selalu datang dengan kekasihnya. Sebenarnya ia sering iri dengan penonton yang menikmati pertunjukannya. Bagaimanapun, ia ingin sekali menikmati lantunan Piano dengan orang yang ia sukai diam-diam. Ikut bersenandung kecil, menafsir kembali apa yang ditampilkan atau sekedar memperoleh suasana panggung konser piano yang begitu mempesona. Namun semua ini tentu hanya khayalannya.

Kondisi Tuan Putri tiap pertunjukan, dirasakan betul oleh Piano kesayangannya itu. Setelah selesai pertunjukan, atau ketika mereka sedang berduaan di kamar mengaransemen nada-nada, Tuan Putri sering curhat perihal keinginannya bertemu dengan pria yang selalu hadir pada pertunjukannya. Piano sebenarnya mengerti, kalau Pria Kesepian itu benar-benar kesepian. Gadis pirang yang kerap ada di sampingnya selama pertunjukan adalah turis yang sedang ia guide. Menjadi guide rupanya pekerjaan sampingannya sebagai mahasiswa. Kalau saja Tuan Putri lebih teliti mengamati gadis-gadis pirang yang ada di sampingnya, Tuan Putri pasti akan menemukan perbedaan-perbedaan, gumam si Piano. Pada konser sebelumnya ada Gadis Pirang bermata amber, berikutnya lagi Gadis Pirang bermata cokelat, dan kini Gadis Pirang bermata safir.  Hal ini ingin ia sampaikan kepada Tuan Putri, namun apa daya, ia hanyalah Piano yang hanya bisa menghasilkan nada, bukan untuk berkata-kata.

***

Pertunjukan Gadis Piano malam ini betul-betul luar biasa. Para penonton memancarkan wajah yang ceria. Mereka berharap, suatu ketika dapat kembali menyaksikan pertunjukan piano yang begitu mempesona.

Di luar gedung, hujan turun perlahan, mengabutkan mata-mata yang tak mampu menggapai cinta.***

 

Salihara-Pancoran, Oktober 2011.

Biodata:

M. Nurcholis lahir pada 22 Juni 1986 di kota Cilacap. Menulis Puisi dan Cerpen di waktu senggangnya. Kontak: Twitter: n_cholize Facebook: Muhammad Nurcholis

Iklan