Tag

, , , ,


Dimuat di Rubrik Oase, Kompas.com. Tautan: Puisi dan di Serambi Indonesia. Tautan: Puisi

Tentang Hari-hari yang Telah Menjadi Takdir

hari-hari lalu, adalah haru-haru yang telah termakan waktu.
pada waktu ini, telah kutitipkan segala luka dari laku
pada tiap liku hidup yang curam
yang karam, yang muram, yang kadang
hanya ada pada tiap kesedihan.

hari-hari lalu adalah hara-hara yang telah terserap tanaman.
sebab engkau hidup, sebab itu pula engkau kan berpulang.
pada hadap maut, pada palung rindu, pada hidup
yang menghirup harap harum surga,
(atau barangkali harum yang haram bagi para pendosa)

hari-hari lalu adalah huru-hara yang hirab ke ingatan,
ke kenangan, ke harapan
yang telah terlupakan, kemana semua hidup telah terbuang.

haruskah aku menyerah pada takdir, Tuhan?

2011

Tiga Kalimat Untuk Malam

i
berdiam disini, aku membayangkan kegelapan adalah selimut yang akan menutup tidur dan mimpi yang memeluk setiap harapan atau harapan untuk memeluk mimpi-mimpi dalam hidup yang kian memanjang, menyisakan kenangan yang tertinggal pada lorong waktu yang makin usang, semakin rabun memandang hidup yang paling suntuk, paling remuk di antara ceruk-ceruk jejak yang tertinggal, lalu terisi oleh hujan yang turun berkejaran dengan kenyataan.

ii
lalu waktu akan mengusir kesendirian dengan kesepian, menyepikan kesendirian dalam waktu kemudian memerangkapnya dalam masa lalu yang merupakan sesuatu paling jauh dalam hidup ini, dalam ceruk yang kau buat dari jejak selepas hujan menjadi nyata, menjadi jingga paling senja sebelum semuanya akan tertangkup pada gelap yang satu.

iii
sesiapa yang menyendiri dengan ilmu, maka kesendiriannya itu tidak akan menjadikannya sepi atau menyendirikannya dalam diam yang semakin masam melihat manusia kian berkarat dalam jasad yang fana, yang lalu semakin mencari untuk apa kenangan tercipta bila ia hanya menjadikan kita menolak mimpi, menalak harapan, serta masa depan yang selalu menjadi misteri untuk apa diungkapkan apabila telah dituliskan dalam tiap keputusan sejak azali sejak kesemuanya belum tercipta.

maka, keteguhan hati adalah alasan untuk menunggumu, untuk mempersiapkan segala sesuatu sebelum pada suatu masa kelak engkau dan aku mencoba bersatu.

Kalibata, 2011

Ingatan-ingatan yang Disebabkan Oleh Lupa

1

Seringkali aku ingin menjadi orang lain
yang melihat —atau mendengarkan—
bagaimana kisah kita tengah terjadi.

Di sana, kita telah duduk bersama
menikmati waktu yang telah lupa
bagaimana cara menghitung detik,
memakan usia sebab malu kupandang.
Karena aku sedang memperhatikan
tiap gerak mataku, tiap laku bibirku
dalam retak senyummu
—yang kuanggap adalah senyum
yang menggugurkan daun, yang
acuh terhadap kerinduan menahun.

Dan aku, perlahan-lahan akan murung
melihat diriku yang gontai setelah air
hujan tiba-tiba turun dari sela mataku.
Dan engkau akan tetap tersenyum,
memandangku, sebab senyum adalah
kata yang engkau sampaikan diam-diam,
“Kuatlah, kuatlah..
Di depanmu hanyalah ingatan yang telah
tertimbun waktu, terkikis oleh tiap laku
yang terjadi melulu.”

2

Semakin ingin kita melupakan ingatan,
semakin bermukim ia dalam kenangan.
Dapatkah kita bertemu sekali lagi?
Lalu sejenak kita bertukar ingatan
Hanya satu yang kupinta darimu:
Bantu aku melupakan ingatan
tentangmu.

Bila tidak, biarkan aku memakai ingatanmu,
memakai senyummu, yang tidak ada lagi aku.

Kalibata, 2010

Biodata
M. Nurcholis lahir pada 22 Juni 1986 di kota Cilacap. Menulis Puisi dan Cerpen di waktu senggangnya. Kontak: Twitter: n_cholize | Facebook: Muhammad Nurcholis

Iklan