(Dimuat di inioke.com, media online remaja. Tautan: Cerpen)

Di negeri kami, yang akan kau temui adalah kebahagiaan, kesenangan dan segala hal yang akan mengalihkan seluruh kesedihan. Lihat saja, begitu memasuki negeri kami, engkau akan disambut oleh gerbang besar yang berukirkan anyaman tetumbuhan dan dua patung burung yang gagah berani di kedua pucuk tiang yang menopangnya. Begitu megah, begitu indah.

Memasuki negeri kami, engkau akan melihat gedung-gedung yang mencabik langit. Gedung-gedung itu terdiri dari ribuan kamar, seperti balok-balok yang hanya disusun begitu saja pada permainan puzzle anak-anak. Namun, bila engkau masuk ke salah satu kamar itu, akan kautemui kasur yang sangat empuk, yang dapat meninabobokkan kita sepanjang hari, udara yang selalu sejuk dan dingin oleh AC yang terus menyemprotkan freonnya, barang-barang elektronik serta furniture mahal dan mengkilap—engkau takkan merasa bila sedang tinggal di dalam sebuah kotak di gedung itu.
Untuk rekreasi atau bermain anak, jangan khawatir. Di antara gedung-gedung megah itu, telah digali kolam renang yang berair biru dan berombak mengitari negeri ini. Di kolam itu, kalian bisa berenang menyesuaikan arus buatan yang akan menghanyutkan segala sepi, segala sedih.

Jangan khawatir untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, berbagai kebutuhan hidup sudah disiapkan di supermarket besar di lantai bawah tiap gedung. Engkau dapat pula menonton bioskop, pertunjukan seni dan budaya di teater sana. Atau untuk pendidikan? Tersedia sekolah dari mulai sekolah bayi sampai SMA. Kebetulan untuk melanjutkan ke jenjang universitas, negeri kami memberikan kebijakan untuk mencarinya di luar, di Negeri Tetangga: Negeri Saudagar, atau Negeri Kanguru. Namun jangan sekali-kali engkau bersekolah di Negeri Kesedihan. Di sana, selain sekolah dipatok dengan biaya mahal (mungkin karena mereka melarat), sistem pendidikannya belum bagus benar. Lihat saja para lulusannya yang justru menggerogoti kekayaan negeri mereka sendiri, sehingga mereka menjadi miskin, melarat dan bodoh.

Di Negeri Tanpa Air Mata, kesedihan dan kemiskinan dilarang masuk. Di tiap gerbang masuk dan keluar negeri ini, dijaga oleh pengawal yang siap setiap saat. Kamera-kamera telah dipasang di tiap sudut negeri ini, jadi jangan khawatir kesedihan akan mengintai kalian. Anak-anak berpakaian lusuh yang membawa gitar kecil dan kantong bekas bungkus permen, orang-orang yang mendorong gerobak dengan muatan barang rongsok, ibu-ibu yang suka menggendong bayinya yang sedang ingusan dan merengek minta makan itu tidak akan pernah bisa masuk ke Negeri Tanpa Air Mata. Mereka akan diusir oleh pengawal berseragam hitam, berkacamata hitam dan bersenjatakan pistol di pinggang dan pentungan di tangan itu.

Di Negeri Tanpa Air Mata, kita bisa hidup bahagia. Menghabiskan hidup tanpa suatu kesedihan, tanpa suatu sakit yang menyebabkan air mata kita tumpah sia-sia. Tidak ada kesedihan disini. Tidak ada air mata di sini. Tidak ada.

***

Konon, dahulu negeri ini adalah bagian dari Negeri Kesedihan. Di atas tanah yang sekarang tertancap berbagai bangunan megah itu dahulunya adalah rumah-rumah bilik dengan barang-barang rongsok yang menggunung di halaman depannya. Mereka membangun tempat tinggal sekenanya. Dari kardus mi instan, dari seng bekas yang karatan, dari koran-koran bekas sebagai alas, yang dibangun dari keputusasaan dan kesedihan.Mereka adalah orang-orang dari Negeri Kesedihan yang dicap sebagai sampah masyarakat. Mereka telah membangun kawasan kumuh yang merusak keindahan kota Negeri Kesedihan. Mereka harus dipindahkan biar tidak menjamur dan menguasai seluruh kota dengan linangan air mata mereka. Namun, namanya Negeri Kesedihan, mereka dipindahkan melalui cara yang menyedihkan pula. Rumah-rumah mereka dibongkar dengan paksa, mereka diangkut menggunakan mobil bak terbuka. Beberapa dari mereka menangis, beberapa dari mereka melolong, namun semuanya tidak bisa tertolong. Mereka diangkut—entah kemana.

Lalu datanglah sekelompok orang berpakaian hitam-hitam, mereka membawa kertas-kertas catatan, notebook, gambar-gambar gedung dan mulai menunjuk-nunjuk lokasi yang sudah kosong itu. Tak lama setelah itu, datanglah mesin-mesin berat, pilar-pilar baja raksasa dan mulailah dentuman-dentuman yang menggetarkan tanah. Dan hingga suatu hari berdirilah suatu negeri yang megah di tengah-tengah ibukota Negeri Kesedihan: Negeri Tanpa Air Mata.

***

Para penghuni Negeri Tanpa Air Mata, pada dasarnya adalah penduduk Negeri Kesedihan. Bagaimana tidak, mereka mencari nafkah di Negeri Kesedihan dari pagi hingga malam hari. Mereka menduduki jabatan penting di Negeri Kesedihan, mereka menguasai industri makanan, mereka mengeruk tambang-tambang harta di Negeri Kesedihan. Bahkan, ada yang menjadi pemimpin di Negeri Kesedihan. Namun, siapa yang mau tinggal di Negeri Kesedihan? Tidak ada. Mereka akan kembali ke rumah-rumah kotak mereka di Negeri Tanpa Air Mata. Mereka hanya mencari nafkah, ya, hanya mengambil harta di Negeri Kesedihan.

Negeri Tanpa Air Mata terus berkembang, rakyatnya semakin hidup sejahtera, berlomba-lomba untuk mencari harta. Tetapi, karena mereka hanya pulang di malam dan hari libur bekerja (itupun digunakan untuk keluarga), mereka tidak mengenal betul antara penduduk satu gedung dengan lainnya. Mereka hanya bisa mengenali tetangganya dari kebahagian; mobil-mobil baru, perhiasan-perhiasan yang dipakai bila mereka keluar dari rumah, dan tambahan rumah yang mereka beli dari penduduk Negeri Tanpa Air Mata yang telah bangkrut. Mereka mulai mempunyai keturunan, anak-anak yang begitu lucu yang tidak pernah mengenal kesedihan.

Negeri Air Mata semakin tumbuh, semakin gemuk. Banyaknya bayi-bayi yang lahir setiap harinya serta orang kaya yang masuk menjadi warga negara baru tidak diimbangi dengan kematian dan warga negara yang bangkrut. Mereka harus membangun negeri baru untuk menampungnya, demi kelangsungan hidup mereka. bila tidak, siapa yang mau hidup di Negeri Kesedihan? Pasti tidak ada. Maka dengan kekuasaan dan lobi orang-orang besar Negeri Kesedihan mereka mulai mencari daerah-daerah baru untuk ditanami gedung-gedung bertingkat, menara-menara pencakar langit, untuk menampung keturunan mereka.

Orang-orang di Negeri Kesedihan, sebagaimana di cerita awal, telah digusur ke daerah-daerah pinggir. Mereka telah dibersihkan untuk tidak memberikan kenangan menyedihkan. Sekarang, dapat kita lihat begitu banyak Negeri-negeri Tanpa Air Mata yang bertebaran di Negeri Kesedihan. Dan mereka akan terus bertambah, menggusur orang-orang melarat di Negeri Kesedihan hingga—entah. ***

Kalibata, 2011

*M. Nurcholis lahir di Cilacap 22 Juni 1986. Lulus dari Sekolah Tinggi Akuntansi Negara tahun 2008. Menulis cerpen dan puisi di waktu senggangnya mengabdi kepada negara sebagai Pegawai Negeri Sipil. Bergiat di Komunitas Epistoholik Alumni STAN.

Kontak: muhammad.nurcholis@gmail.com

Iklan