(Dimuat di Rubrik Oase Kompas.com, link: Puisi)

 

Empat Sonet tentang Cinta dan Kehidupan

 

Sonet 1:

Waktu-waktu semakin memburu
tak peduli dengan apa kesepian harus ditemani.
Takdir, semata bukanlah permainan dadu
Yang membawa engkau kepada pangkal mati.

Tunjukkanlah kepadaku gerimis paling manis
yang menerpa dedaunan kemalu-maluan.
Engkau yang sedang bermain dengan tangis,
Dapatkah kau cegah suatu kehilangan?

Aku takkan lagi menunggu
sebab waktu takkan pernah bersahabat
dengan segala sakit dan kelu
dengan segala jiwa yang telah sekarat.

Bila segala sesuatu ditakdirkan untuk mati
Ketahuilah, aku pernah menantimu di suatu sudut hati ini.

2010

Sonet 2:

Bahkan sebelum tanggal, bunga adalah kuncup
sebelum mekar. Menanti waktu, mengukur
usia dalam tiap musim yang berteman dengan tiup
angin lelah, sebab cuaca sedang tidak akur.

“sebagaimana pepohonan, manusia bertumbuh”
demikian jelasmu terhadap usia yang semakin jenjang
semacam pepohonan melupakan biji lalu tumbuh
Kita telah sama meranum, menunggu senja menjelang.

Bahwa awan telah memberikan kesempatan
kepada langit untuk menangis
Aku mungkin bisa menunggu pepohonan
untuk terus tumbuh lagi berbuah manis.

Bukankah petang takkan pernah ingkar dengan malam
Serta zaman akan menunggu waktu menjadi silam?

2010

 

 

Sonet 3

Adalah tahun-tahun yang menjadi penanda

bahwa waktu senantiasa berjalan menuju ke depan.

Kita terperangkap pada waktu yang berbeda

aku telah berlari sebelum engkau belajar berjalan.

 

Ketahuilah bahwa masa hanyalah masalah takdir

engkau yang menunggui mimpi, dengan apa akan kusapa?

Maka, sejenaklah meletakkan angan, lalu lihatlah pasir

Bukankah dahulu ia batu  besar yang sekeras kuarsa?

 

Dunia bukanlah tempat bagi mereka yang terus mengharap,

mereka-reka tentang siapa takdir bagi kekasihnya.

“Apakah engkau akan terus berdiam, dalam dingin dan gelap

serta usia yang kian berkarat menunggu batas senja?”

 

Bila tiap manusia mendapatkan jodoh yang diinginkannya,

barangkali surga takkan pernah ada dan dicipta.

 

 

 

 

 

Sonet 4:

 

Belajarlah menggapai ketulusan pada cahaya

yang takkan pernah berkhianat kepada penglihatan.

Kemudian, setialah kepada ruang—yang terus ada

menampung semua materi serta kehidupan.

 

“Adakah yang lebih tiris dari kemarau sesudah hujan?”

Engkau bertanya, seolah hidup adalah mimpi,

lalu kita akan terbangun pada suatu zaman

dimana kenyataan telah menunggu ditemani sepi.

 

Kali ini, sejenaklah peluk kesendirian itu

diantara dekapan tangan yang semakin longgar,

semakin kendur sebab kesendirian telah tau:

Ia akan terus sendiri sedang engkau akan berlayar.

 

Segala sesuatu akan terus datang lalu pergi,

engkau, bersiapkah menemani pada tiap sepi?

 

2011

 

Kita Masih Memandang Langit yang Sama

tidak ada jarak yang menimbulkan ketenangan
ia telah mencipta kerinduan paling lubuk
dari jalanan yang tertukar oleh kenangan

kita berjarak, dari degup gunung bertabuh, dari hujan abu yang menebarkan tangisan peluh
“aku magma pekat menahan gejolak, kau kepundan gunung menahan gemuruh”
kita bertaruh, siapa yang hendak musnah di antara kita
sebab bumi akan menahan magma, atau kepundan yang menjadi kaldera

tidak ada jarak yang melahirkan kebencian
ia terus memupuk keinginan,
pertemuan sendu yang mendaras rindu

kita berjarak
namun kita merasa dekat
di langit, gemintang masih bertabur riang
bulan tengah bercumbu dengan awan

tak ada jarak bagi kita
sebab rindu telah lunas oleh benda yang sama kita rasa

Kita masih memandang langit yang sama.

2010

 

Biodata

M. Nurcholis lahir pada 22 Juni 1986 di kota Cilacap. Tergabung dalam Komunitas Penulis Muda dan Epistoholik STAN. Beberapa Cerpen dan Puisinya pernah dimuat di Harian Global, Jurnal Medan dan Suara Pembaruan. Buku kumpulan cerpennya bersama Nana Sastrawan dkk. berjudul Hampir Sebuah Metafora terbit tahun 2011

Iklan