(Dimuat di Harian Jurnal Medan, 10 Juli 2011)

Apakah ini mimpi lagi?

Neal masih memandang hamparan hutan di atas tebing batu tempat ia berpijak—secara tiba-tiba.

Pohon Baobab besar menjulang tinggi di sampingnya. Diameter pohon itu kira-kira lima rentangan tangan orang dewasa. Udara yang bercampur embun pagi sangat sejuk ia rasakan. Seolah, tiap alveoli di paru-parunya sedang dibersihkan oleh udara sejuk yang dihembuskan pelan-pelan. Sangat berbeda. Sangat berrtolak belakang dengan udara yang ia hirup sehari-hari. Udara yang berisikan abu sisa pembakaran, bau comberan, kebohongan, kemelaratan. Dan, Neal berpikir, jangan-jangan ada makhluk berukuran renik yang ikut pula ia hirup yang kadang menjadikannya marah-marah kepada Bita hanya karena urusan pekerjaan yang begitu menyita waktu hidupnya.

Neal masih ingat betul, sebentar lagi sekawanan burung finch akan terdengar bersahut-sahutan menyambut sinar mentari yang begitu lembut menyinari Mitraldur, nama daerah ini yang berikutnya akan ia ketahui—sebentar lagi. Giliran berikutnya, akan terdengar suara tapak keledai yang terantuk halus pada tanah bebatuan dengan rumput-rumput teki di sela-selanya. Ya, sebentar lagi akan muncul lima orang (sebut saja begitu) mengendarai keledai.

Betul saja, lima orang (anggaplah ia adalah jenis yang sama dengan kita) berpakaian coklat kumal menghampirinya. Wajah mereka masih sama lucunya dengan wajah yang Neal lihat dalam mimpinya beberapa kali. Wajah yang sedikit lonjong, dengan hidung agak panjang, mata sipit dan yang lebih lucu lagi setelah mereka turun dari keledai dan berjalan menghampiri Neal. Tinggi mereka tak lebih dari satu meter. Hanya topi kerucut tinggi yang bisa menggapai wajah Neal. Mereka berjalan tergopoh-gopoh. Kalau dilihat-lihat, seperti orang yang berjalan dengan cara mengangkang. Lucu sekali.

Namun Neal tidaklah tertawa. Ia tahu bahwa kelima orang kecil di hadapannya adalah penduduk asli Mitraldur, tempat Ia selalu tersesat dalam mimpi semenjak kecil.

“Selamat datang di Mitraldur” Ucap salah satu orang kecil tadi, yang anehnya dapat dimengerti maksudnya oleh Neal.

Neal hanya mengangguk. Sampai saat ini, ia begitu terpesona dengan keanehan di Mitraldur. Negeri yang kerap muncul dalam mimpinya. Tapi, apakah ini benar-benar mimpi?

Setelah ini, Neal hafal betul, tempat yang akan dikunjunginya adalah Barayan. Pusat kota Mitraldur.

***

Neal tahu, ini hanya mimpi. Tapi Neal harus meyakinkan dirinya jikalau ini hanyalah benar-benar mimpi.

Mitraldur, seperti yang sering Neal lihat di mimpinya, adalah negeri yang sangat makmur. Terbentang dari dua tebing yang jaraknya sejauh mata memandang. Tebing batasnya terlihat seperti satu lidi nun jauh di sana. Mitraldur adalah negeri yang Indah. Damai. Aman dan sentosa, tidak ada yang disebut dengan kejahatan di dalamnya. Rakyatnya hidup semenjana. Maksudnya, tidaklah kaya-tidaklah miskin. Cukup bersahaja. Sehari-hari mereka hidup dari berburu dan meramu. Berburu kijang, kelinci atau rusa di hutan Fianarantsoa atau mengambil hasil kebun berupa buah, sayuran—segala hal hasil bumi yang entah mengapa seakan tidak pernah habis dikonsumsi. Tentu hal ini lagi-lagi bertolak belakang dengan kehidupan nyata Neal. Untuk memberi makan Tabita ia harus benar-benar mencari makanan organik yang terbebas dari racun pestisida. Ia kerap memarahi Nania, istrinya, yang ceroboh betul membelikan gulali buatan seorang kakek tua dengan gerobak sepeda di sekolahnya. Neal bilang, makanan-makanan seperti itu akan berdampak buruk kepada kesehatan Bita. Bisa-bisa Angka Harapan Hidupnya akan menurun menjadi hanya lima puluh tahun. Tapi Nania bilang, gulali yang dijual di pinggir-pinggir jalan, di depan-depan sekolah adalah gulali yang dibuat dari kesedihan. Dari harapan orang tua yang membuatnya yang tidak bisa mencecap manisnya hidup ini. Bukankah dengan memberi uang penjualan mereka bisa membeli makan, dan itu berarti mereka bisa melanjutkan hidup? Lagian, apakah gulali bisa memperpendek usia kita sepuluh tahun?

Mitraldur memiliki Istana megah di pusat peradabannya. Sebuah istana yang dibangun di atas bukit yang berundak dengan tangga-tangga mengulir untuk naik ke bangunan keemasan yang berdiri kokoh di atasnya. Angkuh.

Di Mitraldur, seorang raja dipilih dari rakyatnya secara aklamasi. Namun anehnya, sangat jarang yang berminat untuk menjadi raja di negeri ini. Cerita yang Neal dapatkan berulang kali tentang Raja di Mitraldur sangatlah menyedihkan.

Raja di Mitraldur dipilih dari semua makhluk berakal yang ada di wilayah antara dua tebing Stratus. Mereka dipilih untuk masa lima kali musim panen. Tidak ada hal yang menyenangkan selain menjadi raja di Mitraldur. Raja Mitraldur dipersilahkan untuk menikmati segala kekayaan yang ada di Istana. Setiap panen, berduyun-duyun penduduk akan menyerahkan segala macam hasil panennya. Wanita-wanita cantik (mereka bilang begitu, padahal menurut Neal, sangat menggelikan) disediakan untuk Raja sebagai isteri-isterinya. Kesenangan, apapun, akan disediakan oleh rakyat Mitraldur. Kecuali melakukan kekerasan atau pemaksaan kepada rakyat. Siapapun, pasti akan mau untuk menjadi raja di Mitraldur—sebelum musim panen kelima berakhir.

Setelah masa lima kali panen, raja yang tadinya begitu dihormati dan diberikan kenikmatan dunia harus digantikan. Ironisnya, mantan raja ini akan diarak oleh dua orang algojo dari tengah kota menuju Doomindur. Sebuah air terjun besar di tebing batas terluar Negeri Mitraldur. Mantan raja tadi adalah orang yang penuh dengan gelimang kesalahan dari tahta yang telah ia banggakan, emas berlian yang ia timbun bergunung-gunung di istananya, serta para wanita yang telah ia nikmati. Menurut rakyat Mitraldur, mantan raja itu harus disucikan. Dan jalan satu-satunya adalah menjatuhkannya ke jurang Doomindur. Jurang kematian.

***

Neal tidak pernah merasakan mimpi sepanjang ini. Paling-paling dalam perjalanan menuju pusat kota Mitraldur sembari berbincang dengan lima orang kecil tadi mimpi ia akan berakhir. Selalu.

Namun ini, Neal merasakan dirinya benar-benar hidup di mimpinya. Sedari tadi ia berusaha untuk menampar pipinya, mencubit punggung tangannya, semua terasa sakit.

Dan kini, oh, Neal telah sampai di Barayan, pusat kota Mitraldur. Beribu-ribu orang kecil sudah berkumpul. Neal seperti melihat sekumpulan bocah TK yang sedang karnaval di jalanan. Semua keriuhan terdiam setelah suara nyaring dan membahana terdengar dari puncak Istana. Neal tertegun.

“Rakyat Mitraldur yang Sejahtera. Raja kita Sasasilu Be Yadayiyu telah kita sucikan bersama. Sesuai dengan Garis-garis Besar Halauan Negara Mitraldur, maka kita akan memilih seorang raja baru.”

Suasana diam. Neal masih saja mencubiti punggung tangannya. Sakit.

“Kepada seluruh makhluk berakal yang berkumpul di sini, siapa gerangan yang bersedia untuk menjadi Raja Mitraldur?”

Keriuhan yang tadi terdengar kini mendadak menjadi kebisuan yang mati. Perlahan-lahan suara kumbang gunung mennggetarkan gendang telinga.

“Kepada Makhluk berakal Mitraldur, adakah yang bersedia untuk menjadi raja?”

Suara itu kembali membahana.

Ini pasti mimpi. Neal yakin betul bahwa apa yang ia alami ini adalah sebuah mimpi. Untuk membuktikannya, Neal melangkahkan kaki menuju tangga istana. Seluruh pandangan rakyat Mitraldur tertuju kepadanya.

Ini hanyalah mimpi. Tentu akan sangat menyenangkan menjadi raja di mimpi ini, begitu pikir Neal.

Neal telah sampai di balkon istana, tepat di samping orang kecil yang membahana tadi.

“Saya bersedia menjadi Raja Mitraldur.” Neal mengucapkannya secara lantang. Suaranya benar-benar menggema dan terdengar membahana. Dua tebing itu telah membuat efek suara yang begitu menakjubkan.

Seluruh rakyat Mitraldur bersorak. Kini mereka mempunyai raja baru. Neal—si Manusia Tinggi.

Neal masih saja mencubiti punggung tangannya. Ini hanya mimpi, bukan?

***

Menjadi raja di Mitraldur? Benar-benar gagasan luar biasa!

Neal masih tidak percaya bahwa ia telah menjadi Raja Mitraldur. Dan memang benar, menjadi raja disini adalah seperti benar-benar hidup di surga. Semua kemewahan, makanan lezat apapun yang ia mau dan gadis-gadis Mitraldur yang sebelumnya terlihat menggelikan kini malah terlihat menggairahkan di mata Neal. Neal sangat senang tinggal di Istana Mitraldur. Segala kenikmatan ini memang telah melupakan segalanya. Ia telah lupa tentang negeri asalnya.

Namun, ketika melihat gadis-gadis kecil yang datang ia justru teringat kepada Tabita. Sedang apakah ia kini bersama Nania? Apakah Tabita sudah tumbuh menjadi gadis kecil yang manis? Oh, bukankah sudah empat musim panen aku tinggal di Mitraldur? Apa saja yang sudah kulakukan?

Itulah pertanyaan-pertanyaan Neal yang membuatnya kembali mengingat asalnya. Semua kesenangan yang didapat Neal akan diganti dengan jurang Doomindur. Bagaimana mungkin bila sebentar lagi aku akan mati, aku masih bisa bersenang-senang?

Neal terlihat sangat murung. Ternyata semua ini bukanlah mimpi. Ia telah hidup, paling tidak empat musim panen—hampir lima tahun—di Mitraldur. Tangan yang ia cubit, pipi yang ia tampar, masih terasa sakit. Apa yang kini menimpa Neal sangat memprihatinkan. Wajahnya pucat, matanya sayu serta badan lesu yang kering. Sebentar lagi kematian yang benar-benar akan menjemputnya. Ya, musim panen semakin dekat. Dan algojo-algojo itu, tentu sedang mempersiapkan pakaiannya.

***

Neal telah diangkat oleh lima orang algojo kecil. Di depannya sudah menganga Doomindur yang hitam. Betapa sekarang ia sangat pasrah. Neal tak habis pikir, mengapa ia tidak memerintahkan rakyatnya untuk menutup Doomindur, atau membuat jaring di bawahnya sehingga ia bisa selamat? Mengapa ia tidak mencari cara untuk menyelamatkan hidupnya selama memiliki kekuasaan? Namun yang lebih ia sesalkan adalah: mengapa ia mau menjadi raja?

Akhirnya, hukum harus ditegakkan, takdir tidak dapat terelakkan. Bersamaan dengan pekikan rakyat Mitraldur tubuh Neal terjun bebas menuju Jurang Doomindur yang kelam. Neal berteriak. Di hadapannya terlihat bayangan wajah Tabita dan Nania, bergantian. Percikan air sedingin es mencakar wajahnya yang pucat. Pasti sebentar lagi ia akan menjadi mayat.***

Pengadegan, 21 Juni 2011 pk. 20.15-22.35

Catatan:

Pohon Baobab: pohon besar di Madagaskar

Burung finch: semacam parkit.

Cerita tentang permen Tabita, terinspirasi dari cerpen Agus Noor berjudul “Permen”

M. Nurcholis lahir di Cilacap 22 Juni 1986. Menulis cerpen dan puisi di waktu senggangnya mengabdi kepada negara sebagai Pegawai Negeri Sipil. No HP: 085880944812

Iklan